21 October 2016

pengingatan

baru saja kamu mencoba berbenah. namun ada saja cobaannya. disaat sendirian khususnya.
terlalu banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan. apa penyebab yang membuat kamu melalaikannya?
kematian. sudahkah tidak perlu mempersiapkannya? atau bahkan sekedar mengingatnya?
mulailah dari sesuatu yang sederhana. menjaga pandangan. menjaga pandangan. menjaga pandangan. menjaga interaksi. menjaga kepantasan. menjaga kehormatan. tidak perlu risau, jika memang hanya hal 'kecil' ini yang kamu akan konsisteni untuk dibenahi. berawal dari yang kecil sesuatu yang besar itu muncul. dan perlahan kamu benahi, kemudian konsisteni dalam pembenahan.
READ MORE - pengingatan

20 October 2016

perhitungan

sudah lama saya ngga ngeblog. kangen juga. hasrat sebenarnya, hanya tak meluangkan waktu saja. hanya diluangkan untuk keburukan kebanyakan. berkorelasi memang. kalau tak diisi dengan kebaikan, pasti akan terisi dengan keburukan.
padahal selama ini ngeblog bisa membantu setiap proses pemaknaan saya terhadap sesuatu. dari yang remeh temeh sampai membuat kepala berpusing berdarah-darah. menganalisa, membenang-merahkan, memecahkan, dan yang paling penting adalah akhirnya mensyukuri setiap jenak nya, sebab setiap jenaknya adalah bentuk dari kenikmatan yang dianugerahi oleh Allah.
rabbana ma khalaqta hadza bathila, subhanak, wa qina adzabannar...

tapi saya juga ngga tahu mau ngeblog apa malam ini.
sesadarku, setiap proses harus ditulis. setiap proses harus disadari. setiap proses harus dihitung. sebab setiap proses akan terakumulasi. dan akumulasi akan memberi bentuk siapa dirimu.
jika proses tak dihitung-hitung, kita akan jadi orang yang ngga punya prinsip. sekalipun keburukan, proses yang dihitung-hitung "konsekuensi" nya dengan kesadaran, lebih baik daripada kebaikan tapi tidak berdasar perhitungan.
saya secara sadar sedang akut mengikut arus. dan karena arus manusia cenderung khilaf. tempat salah dan lupa. saya bertekad harus ngeblog lagi. agar ssadar, kehidupan kedepan adalah mutlak milik saya. yang dipelajari dari waktu yang terlewati. ingin menilik setiap proses/kejadian dengan penilaian. karena memang punya nilai. untuk bekal di masa depan.
READ MORE - perhitungan

15 June 2013

MABA FMIPA UNS 2013, sugeng rawuh . . .


SELAMAT DATANG kepada teman-teman mahasiswa baru FMIPA UNS 2013. disilakan bagi yang ingin mendapatkan info-info tentang ke-FMIPA-UNS-an untuk mengakses alamat berikut :

https://www.facebook.com/groups/564524470266343/ -> RUMAH MABA 2013 FMIPA UNS


segala informasi bisa ditanyakan di group tersebut. terima kasih atas perhatiannya :-)
READ MORE - MABA FMIPA UNS 2013, sugeng rawuh . . .

20 May 2013

sedikit sentuhan yang berbeda

saya punya cerita tentang hari ini bro. cukup men-tratap-in hati, menyayat dalam, dalam sekali. perih. tapi, ini realita, fenomena yang ada. dan mari buka mata untuk ini semua. bukan karena buka mata karena jika tutup mata membuat semakin terasa sayatan, bukan. tapi buka mata, dengan melihat sekitar, untuk coba berikan ide perbaikan, juga sekaligus aksi sebagai amalan.
sekedar diskusi untuk mengkonsep, sudah banyak yang buat, jangan terlalu berkutat. takut endingnya ngga kesikat. sibuk retorik, nol impelementasi. cukup diskusi sedikit, tapi matang, bubuhkan sedikit different value of giving, semacam pemberian dengan nilai keunikan yang sama sekali berbeda dengan biasanya, dan aksikan.

check it out->
aksi hari ini : mau aksi demonstrasi, sedikit yang ikut, ngaku-ngaku atas nama mahasiswa, eh taunya banyak yang nentang dari kalangan sendiri (mahasiswa, red). masuk koran, oke..tapi space berita cuma 5x10cm, no pic lagi, kecil bener. boro-boro masuk headline, orang aksi aja hasil ngangkat berita headline :-)

oke kawan, kita sepakat sebelum aksi harus ada pencerdasan dulu, mari diskusi.
diskusi hari ini: sok-sokan betul ngerasa paling bener, data kasus juga ambil dari koran, bercerca ngomong banyak, ternyata ada ahli yang lagi mendebat (meski bayaran). ngomong sana sini, tapi nol implementasi. indah nian retorika nya, tapi dalam membual kata. ngeloyor kesana kemari. btw, emang aksi cuma demontrasi, ha?

bro, nyesek. setelah saya pikir, ada benernya juga, meski dirasa ada salah. ngeselin bacanya, tapi itu ungkapan realita. kagak usah nge-les lah kita. mari kita buat yang baru... yang berbeda... tapi tetep dalam visi gerakan memperbaiki bangsa dan negara. 
susah ya, merasa betul jadi warga indonesia yang penuh permasalahan kompleks di dalamnya. kegelisahan muncul. dan memang terasa, lingkungan semakin butuh perbaikan. dengan cara apapun itu.
tetapi ingat bro, dengan cara kita, kita -masih- sedikit. tidak banyak. memaksakan kehendak, sah-sah saja. tapi perlu diingat, jangan berlebihan sampai memaksa orang lain harus se ide dengan kita, seperti mengikuti kita dalam ber-peduli terhadap negeri hari ini, aksi demonstrasi misalnya.

hari ini kita berada didalam hari-hari demokrasi. mereka juga geli, sekaligus jijik melihatnya. mereka sadar, tapi belum gelisah. tapi, ini demokrasi, mereka sah-sah juga memilih jalur lain, atau bahkan sekedar membenci aksi demonstrasi itu sendiri. mungkin, yang penting, bagi mereka bisa eksis dengan jalur tersebut. dalam benak mereka, mereka sukses itu karena usaha mereka, bukan orang lain. persetan dengan yang lain, mumpung lagi demokrasi, saya harus eksis sendiri. 
atau jangan2, kamu aksi demonstrasi atau duduk berdiskudi selama ini itu bukan karena kegelisahanmu, tapi hanya ingin terlihat eksis seperti mereka? kasihan sekali kamu.
daripada mendemo hasil perpolitikan yang bagi mereka sama aja kepentok pada kesimpulan 'ada atau tidak adanya dirimu, itu sama saja bagiku, kesejahteraanku bertumpu pada ototku', lebih baik macul saja kamu. akibat hanyasanya karena tidak ada kesadaran yang memunculkan kegelisahan kolektif.

ada tren yang jauh berbeda masa kini. dengan dulu '98 misalnya. semua objek hanya ingin ruang kreatifitas mereka tak dibatasi, tapi hanya karena ada subjek yang membatasi, si objek tidak terima. objek banyak dan merata di seluruh wilayah. dengan tentu, semua objek sepakat bahwa dengan menghancurkan subjek yang membatasi tsb, maka kreatifitas mereka akan berkembang. dan itu merupakan satu2nya jalan. dalam jumlah yang massiv dan menjadi kesepakatan bersama bahwa subjek tsb adalah pemerintah, objek berbondong2 membredel subjek. semua sepakat satu suara. meskipun berbeda-beda yang melatari kreatifitasnya.

baca dan cermati. sengat kontras dengan sekarang. demokrasi lah yang menciptakan kondisi ini. dan kita lah yang membuka kran dari kondisi tsb. bukan saatnya meratap, demikian terlebih menghujat. not a sollution. demokrasi yang membuat mereka merasa bisa menshow-up diri mereka sebisa dan dengan cara se-mereka mungkin. apapun yang mereka lakukan, suka-suka asal sesuai hukum dan ham, itu sah-sah saja dalam demokrasi. jadi, jika mereka tidak mau berdemo menuntut negara dengan cara kita, itu sangat sah, dan wajar. karena mereka sebagai objek, tidak ada yang dibatasi kreatifitasnya. meskipun memang subjeknya sedang merusak.
tapi kita bisa berikan sentuhan kepada mereka, sentuhan yang berbeda. sentuhan pencerdasan dengan sisi lain sesuai dengan minat dan bakat mereka. sesuai interest mereka. dan itu sah-sah saja dalam demokrasi. terdapat semacam different value pada konsep yang berbeda yang -hampir- jarang dipakai.

ingat kawan, si objek masih punya tugas yang sama, memperbaiki negeri, yang salah satunya nyentil pemerintah. meski belum tergugah. artinya, sangat sah juga jika mereka menuntut perbaikan negeri dengan cara mereka, dengan kreatifitas mereka.
kita bersama-sama menyentil subjek, tanpa merubah objek menjadi seperti kita semua. 
ya kan? 
ini tugas kita. hanya tinggal bagaimana cara kita mengomunikasikan kepada mereka dengan cerdas. disitu letak differensiasi value of giving. kita memberikan pencerdasan agar mereka tergugah dan peduli terhadap negeri dengan cara manfaatkan kreatifitas mereka, bukan paksa orangnya. instrumen lain dari diri objek, selain pemikiran si objek, sesuatu yang dimanfaatkan objek ! objek-nya objek. dan kita manfaatkan itu.



konkritnya, ada banyak alternatif. seperti misal, kita buat komunitas (dalam gerakan massif), atau bina komunitas, atau jalin komunikasi dengan komunitas lain. kita serukan aksi perbaiki negeri bersama dengan cara masing-masing, dengan tetap terjalin harmoni, tanpa ada yang menjadi subjek baru, atau harus menjadi satu objek....
READ MORE - sedikit sentuhan yang berbeda

14 May 2013

menggadai waktu, berlelah merenggut surga...

Kemudian ‘Umair bin Al Humam mengeluarkan butir-butir kurma dari kantong anak panahnya dan mulai memakannya. Namun tiba-tiba dia bergumam, “Jika aku hidup menunggu usainya menikmati kurma-kurma ini, alangkah lamanya!”
begitula kiranya, setelah kumandang perang ditabuh oleh Rasulullah SAW. "Bangkitlah kalian menuju surga yang seluas langit dan bumi !!". sahabat tersebut menggadai waktu menikmati kurma-kurma terakhirnya. dan akhirnya, gadaian itu terbalas syahidnya. tentu lebih mahal dan nikmat.
lelah kerja lillah itu rela menggadai waktu tuk rengkuh surga. menggadai waktu dengan kerja dan karya. hanya dengan itu waktu mereka digadai. tentu ibadah sebagai niat yang menyertainya. selainnya, tidak. 
mereka tahu 2 bekal itu bagi mereka tidak cukup banyak menjadi penolong kelak di akhirat. mereka tahu betul hanyasanya ampunan dan rahmat Allah lah yang menjadikan surga untuk mereka. tetapi mereka bersikeras tetap menggadaikan waktu mereka, karena mereka lebih yakin, meski senantiasa berharap-harap cemas, rahmat Allah akan turun melalui karya mereka. ampunan Allah akan luntur bersama kerja mereka. bukan suatu kesia-siaan. dan mereka tidak menyerah, apalagi mengurangi-nya dengan kemaksiatan. dengan keyakinan itu, mereka terus bekerja sembari berkarya. karena kerja dan karya mereka lillah. bukan lighairillah. kekal.

ada kenikmatan disana. kenikmatan yang terbayar setelah merintangi ujian dan cobaan. dalam bekerja dan berkarya, sudah menjadi sunnatullah, ujian dan cobaan datang menerpa. bukan kenikmatan namanya kalau belum dapat penderitaan. seperti sahabat tadi, kurma nikmat terakhirnya begitu menggoda. sayang kalau tidak dimakan. tapi ia segera tersadar, disitulah letak ujiannya. mungkin saja ia tak akan merasakan nikmat kekalnya, hanya karena kurma itu. ia merasakan feel surga yang seluas langit dan bumi. karena feel nikmat hanya didapat saat ujian dan cobaan menerpa. mereka tahu betul betapa berat konsekuensi yang harus terenggut, tapi feel mereka lebih kuat memotivasi seberapa besar pun konsekuensi yang harus mereka bayar. hanya mereka visioner, mereka yakin feel itu akan menjadi riil setelah menyelesaikan misi kerja dan karya yang penuh ujian dan cobaan tersebut. 

kenikmatan itu direngkuh di akhir. selalu begitu. dan begitu sebaliknya, penyesalan. kenikmatan kekal, jannah, ada di akhirat. bukan dunia. kalaupun ada kenikmatan di dunia, itu hanya kabar gembira yang dipercepat. sebatas kabar, bagian kecil kenikmatan kekal, kecil sekali. tapi akumulasi bagian-bagian kecil itulah yang turut membentuk feel, kabar-kabar gembira itu begitu membuat semangatnya terbakar. ia tahu puncak lelah kerjanya akan ia dapatkan. begitu juga dengan karya nya yang akan segera ia investasikan untuk manusia setelahnya. sehingga akan terbayar lah semuanya. karena, tiada totalitas dalam ibadah yang tak terbayar jannah. juga dalam kerja dan karya yang tak terbayar surga.

“Sudah lewat waktu untuk tidur saudaraku. Tiada istirahat bagi seorang mukmin kecuali di surga kelak.”
READ MORE - menggadai waktu, berlelah merenggut surga...

12 May 2013

What's on your mind?



HAHA
READ MORE - What's on your mind?

07 May 2013

No Progress


Begitu beratnya kepalaku, aku merasakannya, pusing, linglung, berat, dan melelahkan. Bukan karena memikirkan ataupun mengurus umat, bukan. Semua hanya sok. Selama ini hanya sok memikir, juga sok mengurus. Ya, tidak ada hasil dari memikirkan, tidak ada fakta dari mengurusi. Semua itu sok. Tidak lebih. Bahasa kaskusnya, no pict=hoax, no implementation=hoax, no fact=hoax.  Tapi bukan juga karena cinta muda membara, bukan. Meskipun semakin sekarang, semakin bebas berkeliaran perkataan-perkataan tidak penting keluar dari mulut ini menggoda wanita. Jijik, sungguh memalukan. Kamu hanya memindahkan kata-kata orang yang berpacaran ke semua perempuan yang kamu ajak bicara, tapi memang bukan pacarmu. Jadi kamu bisa beralasan kamu memang tidak pacaran, meskipun esensinya sama. Menjijikkan, mana kekuatan umar & noname di hatimu!

Ada yang salah dengan ini semua. Entah, akupun belum tahu pasti apa penyebabnya. Masih mencoba memetakan problem sekaligus mencari solusi. Yang pasti, kegoblogan-mu ini ngga bisa ditolerir. Bagaimana kamu bisa berbicara tentang umatmu, sedangkan dirimu masih berkutat dengan permasahalan-permasalahan sepele yang kamu sepelekan setiap hari? Bagaimana dengan umat yang diserahi Allah untuk kau urus, sedangkan yang diserahi amanah saja masih alfa, padahal bisa dijauhi. Tulikah, butakah, tertutupkah mata hati mu, hah? Atau memang asumsi bahwa kamu susah mendapat hidayah berupa kepekaan itu benar karena akumulasi kemaksiatanmu yang menggunung tinggi? Cukup tau begitu goblok kamu menghidupi keseharianmu. Padahal kamu paham semua mengharapkanmu. Asa mereka mahal, semahal ikhlas menghibahkan diri mereka untuk jama’ah. Tapi perlahan kamu melempar asa-asa mereka, dengan mudah. Sembarang tak terarah.

Nikmat dunia akankah bagimu melebihi nikmat akhirat? Kau gadaikankah kesabaranmu yang dengannya kamu bisa merengkuh surga? Begitu nikmatnya.

Perteguh prinsipmu yang kini melonggar. Perlama sujud-sujud malammu yang telah banyak terbuai tidurmu. Perbanyak lantunan-lantunan dzikirmu yang telah banyak tersita kata gombalmu kepada wanita. Perkuat ikatan Rabb-Mu, Ia telah menguatkan, hanya kamu selalu menghindar. Aku merindukan masa itu, rindu begitu dalam, tak tergambar, tak bertepi, tak terbatas, tapi terjangkau, tidak bias, dan pasti. Tiada hidup tanpa jihad, dan tiada jihad tanpa berkorban. Berkorban menghilangkan sejenak, sejenak saja, bayangan ingin mendapatkan pujian-pujian di dunia. Karena sebentar lagi kamu juga mati.

Coba pelan-pelan perbaiki. Itu shalat nafilah, shaf pertama dengan takbiratul ihram pertama imam, do’a khususnya untuk kedua orang tuamu, 2 lembar qur’an, sudahkah menyertai 5 waktumu sehari? Shalat dhuha, shalat tahajjud, sedekah. Masih ingatkah dirimu dengan kekuatan mata hati para sahabat nabi SAW, yang didapat karena ibadah-ibadah penguat ruhiyah mereka?

“karena tidaklah kamu mengamalkan ‘mujaahidun li hawahu’ –yang kuat terhadap hawa nafsunya, kecuali menyertainya halaawatul ibadah, manisnya beribadah”. Yang juga kamu ingat bahwa terlahir halaawatul iimaan dari halaawah ‘ibadah dengan totalitasnya, tidak setengah-setengah dengan hawa nafsu. Jadi jika ibadahmu selama ini masih belum berdampak apa-apa, kamu susah menikmati, hati-hati, jangan-jangan selama ini kamu masih menjadi budak hawa nafsumu. Dan tentunya akan berdampak dengan imanmu. Kemudian membintik-hitamkan hatimu. Semuanya tertutup, hidayah susah masuk, juga jasadmu menjadi rusak. Secara perlahan. Perlahan tapi pasti, hanya menunggu waktu yang tepat. Semakin goblok, serba menggantung, terhimpit, ngga bahagia dan tentu penyakitan!

Astaghfirullah, padahal aku merasa selama ini nikmat-nikmat mengalir lancar. Begitu dimudahkannya urusan-urusanku. Hidupku semakin luwes. Tapi aku sadar bahwa banyak agenda-agenda yang aku lalaikan, susahnya aku dalam menentukan prioritas. Dan tidak aku lupakan sama sekali quote “tanda-tanda berkahnya amal shalih adalah lahirnya amal shalih berikutnya, yang berkesinambungan”. Aku takut ya Allah, takut. Istidraj, istidraj, istidraj itu, aku memohon ampunan kepada-Mu Allah, aku takut istidraj.

Engkau tempat memohon pertolongan. Kepada-Mu lah segala ketergantungan. Engkau lah pemberi luasnya  maghfirah dan hidayah pada jalan yang lurus.
READ MORE - No Progress

22 June 2012

Indonesia terbelakang karena ISLAM !? atau sebaliknya ?!


Segala puji hanya untuk Allah, tiada Tuhan kecuali Dia yang maha Benar. Kita berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak takut kepada-Nya, dari jiwa yang tidak tenang dan senatiasa gelisah, serta dari doa yang tidak dikabulkan oleh-Nya.

Shalawat dan salam hanya teruntuk Utusan mulia, kekasih-Nya, Muhammad beserta keluarga, sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan orang-orang shalih setelahnya. Semoga kita juga termasuk diantaranya.

Ada statement yang baru aku dapatkan dan sungguh bisa membuat kita terintropeksi.
“Kita jangan dibuat senang oleh banyaknya pemuda muslim di Indonesia yang menjadi negara mayoritas muslim ini, tapi kita harus dibuat risau oleh sedikitnya mereka yang bertahan dalam kehanifan identitas keislaman mereka serta produktifitas mereka sebagai generasi harapan islam dan bangsa”.
Ironi memang, tapi itulah kenyataan sekarang dan semoga tidak untuk kedepannya. Semoga tidak termasuk kita di dalamnya. Sungguh mengerikan jika kita mencoba untuk menerawang masa depan islam dan negara ini. Coba sedikit kita camkan fakta ini. Indonesia yang saat ini masih menjadi negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar dunia, ternyata menjadi negara ke-63 sebagai calon negara gagal dari 178 negara-negara yang ada. Dan itu menjadikan indonesia termasuk dalam negara-negara yang terkena zona terdegradasi menjadi negara gagal. Bukan itu saja yang menyedihkan kita, bahkan yang menduduki peringkat pertama untuk negara gagal adalah negara Somalia, salah satu negara di afrika yang notabene berpenduduk mayoritas muslim juga.
 Dan mungkin akan menjadikan kita lebih terintopeksi, karena sesungguhnya yang menempati urutan pertama negara yang terbaik dan tersukses adalah negera Finlandia. Dan telah kita ketahui bersama, negara tersebut bukanlah negara yang bernotabene islam, meskipun mereka menerapkan nilai-nilai dan konsep islam di dalam bernegara. Bukan berarti saya membenci mereka. Tetapi Setidaknya dan semoga itu bisa menjadi cambuk untuk kita semua. What do you think about it?

Atau jangan-jangan selama ini kita-pun tidak pernah peka terhadap lingkungan islam sekitar kita, tidak pernah respect terhadap negeri Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim ini, sehingga ketika negeri ini di hinakan oleh yang lainnya, setidaknya kita juga merasa bahwa agama islam ini juga akan terkena dampaknya? Seperti dengan sebutan negeri mayoritas muslim yang juga negeri penuh kekerasan, intoleransi, kotor dan kumuh, kebodohan dan kemiskinan merajalela.
Atau mungkin tidak pernah peduli dengan kondisi negeri muslim internasional, seperti negara Palestina yang sedang terjajah sekarang ini, kita pun tidak pernah sama sekali terpikirkan dan tergerak olehnya. Hanya terlena dunia dan kesenangannya saja selama ini kita cari? Padahal keadaan dunia islam benar-benar sedang membutuhkan kita? Tertekan, terhimpit, terhinakan. Semoga kita tidak termasuk didalamnya. Where are you, young militant mosleim?

Islam yang memiliki pandangan yang sebegitu komprehensif dan menyeluruh-nya dalam kehidupan ini, mencintai keindahan, mengapresiasi intelektualitas, menjunjung tinggi perdamaian, berperadaban madani, seharusnya mampu menjadi contoh dan teladan. Memberikan inspirasi kebaikan bagi sekitar dan negara lainnya. Bukan malah menjadi bahan hinaan dan cemoohan negara-negara lain. Bahwa islam itu kotor, anarkis, bodoh, mskin, terbelakang dengan melihat fenomena-fenomena yang ada. Atau bahkan, kita malah diberi contoh oleh negara yang notabene bukan negara mayoritas muslim, seperti Finlandia, Jepang, Swiss, Dll. Karena sesungguhnya mereka lebih memaknai nilai-nilai islam dan mengaplikasikan konsepnya daripada kita sebagai seorang muslim dalam menjalani kehidupan bernegara ini. Mungkin lebih tepatnya kita memakai istilah islam akan tetap mulia bukan dengan dan dari tangan seorang muslim. So, what should we do?

Misi kita sebagai seorang reformis adalah perbaikan dan perubahan. Perbaikan dan perubahan secara menyeluruh, tetapi tetap perlahan-lahan dalam pengaplikasiannya. Mari mulai dari sekarang kita tidak hanya menjadi seorang yang shalih secara individu, tapi juga shalih secara social. Perhatian-perhatian kita seharusnya jangan hanya berkutat untuk urusan diri sendiri. tetapi lebih dari itu, karena memang kita sedang dituntut lebih dari ummat ini. Seperti Firman Allah dalam ayat yang pertama kali diturunkan oleh-Nya, Al-‘Alaq 1:
iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq”-
Perhatikan, Iqra’! Allah menyuruh kita untuk membaca. Membaca semuanya. Allah tidak membatasi bacaan hanya pada buku secara mutlak. Dalam tata bahasa Arab, seharusnya kata qara’a termasuk fi’il/predikat yang membutuhkan maf’ul bihi/ objek, tetapi lihat dan perhatikan ayat itu. Oleh-Nya, kita diperintahkan untuk membaca dengan nama-Nya, tanpa objek. Tanpa objek sama sekali. Ini merupakan tanda bahwa kita tidak diperintahkan untuk membaca buku, saja. Tetapi juga diperintahkan untuk membaca secara umum, membaca alam ini, membaca kondisi social di sekitar kita, membaca kondisi umat, negara, dan semuanya yang ada dipermukaan bumi-Nya. Karena sesungguhnya islam agama yang mengurus semua sendi-sendi kehidupan. Maka, kita, sebagai seorang muslim, dituntut untuk memperhatikan dan menjaganya. Lebih tepatnya kita diperintahkan untuk lebih peka dan dituntut lebih mempunyai perhatian khusus terhadap lingkungan sekitar kita, alam, manusia, sistem, budaya, dll. IQRA’!!! ya ikhwaniii al-‘aizza’.

Seorang muslim, terlebih dari pemudanya, seharusnya mampu menginisiasi dirinya untuk  senantiasa bergerak menjadi problem solver terhadap permasalahan ummat yang ada di sekitarnya dan harus senantiasa dirangsang kepekaannya untuk kehidupan yang lebih baik, apapun kondisi dan situasinya. Serta dapat merealisasikannya menjadi aksi nyata dalam kehidupan. Pengorbanan yang besar memang suatu konsekuensi untuk itu semua. Mempersembahkan hal yang paling asasi dari apa-apa yang kita miliki demi meraih tujuan mulia. Islam rahmatan lil ‘alamin.
yaa ayyuha alladzina amanu hal adullukum ‘ala tijaratin tunjikum min ‘adzabin ‘alim” ash-shaff: 10.
inna allaha yasytara minal mu’minina anfusahum wa amwalahum bianna lahumu al-jannah” –at-taubah: 111.
Ya Rabbi, ampunkanlah segala dosa kami. Maafkanlah kejahilan hamba-Mu ini.
Kami semangat baru, siap maju hancur semua musuh, kami tentara Allah, siap korbankan harta bahkan jiwa.
Wallahu a’lamu bi ash-showwab.
READ MORE - Indonesia terbelakang karena ISLAM !? atau sebaliknya ?!

18 June 2012

ini semua tentangmu, dari lubuk hatiku


sesekali ingin kembali mengisi blog ini. seperti kata orang ber-go_Blog ria memang mangasyikkan. nemu dokumen word yang dulu pernah di publish di FB. biar nggenepin 100 post blog ini, ya bolehlah. ini semua tentang pemuda.

Tidak ada bahasan yang lebih menarik –mungkin- selain membahas tentang kepemudaan seseorang, sekarang.  Di masa krisis yang tengah melanda berbagai sendi kehidupan bangsa seperti sekarang ini, kita memerlukan seorang pemuda. Jiwanya yang senantiasa bergelora, semangatnya yang senantiasa berapi-api, pemikirannya yang senantiasa memberikan solusi, bersinergi dalam satu raga yang memang ditiupkan kekuatan lebih dari yang lainnya untuk mengemban amanah-amanah yang besar.
Kalau kita bicara tentang pemuda saat ini, bukan mereka yang hanya menggebu-gebu saja dalam beretorika, tapi mereka juga yang santun dalam beretika. Bukan mereka yang suka membual dalam berbicara, tapi mereka yang berani mengambil resiko dalam mengaplikasi kata-kata. Mereka yang senantiasa kuat berpijak dengan kebenaran ideologi yang diusung, berpikir bijak dalam kehidupan masyarakat yang pragmatis, hidup bertindak untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan kekinian ,baik permasalahan internal maupun external diri mereka.
Mereka selalu menyeru untuk bekerja dalam berbagai kegiatan dan aktivitas yang positif, syiar mereka sebagai seorang reformis adalah perbaikan, slogan mereka sebagai seorang aktifis adalah kontribusi kebaikan sebanyak-banyaknya, prinsip mereka sebagai generasi harapan adalah semangat kebermanfaatan, bekal mereka sebagai seorang yang tegar adalah sabar dalam menghadapi berbagai ujian dan ciri khas mereka di dalam hati yang senantiasa bergelora adalah kerendahan hati. Karena mereka yakin, perubahan ada di tangan mereka.
Pemuda selalu menjadi yang terdepan. Selalu mejadi teladan di berbagai keadaan. Tidak ada waktu sedikitpun yang terlewatkan, kecuali mereka telah melakukan hal yang terbaik di dalamnya. Sesosok jiwa yang senantiasa tenang bak air mengalir, namun ketika ada kebaikan, gemuruhnya lebih dari gemuruh tiupan angin topan yang menderu. Kewibawaan terpancar dari kerendah-hatian yang mendalam, namun ketika masalah berdatangan, keperkasaannya lebih dari keangkuhan gunung yang menjulang. Mereka sadar hidup mereka dalam keterbatasan, namun mereka lebih sadar, potensi dan bakat mereka terlalu banyak untuk dipendam.

-“Mereka adalah anak-anak muda yang telah beriman kepada Tuhan mereka, lalu Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (Al-Kahfi : 13).
-Rasulullah Saw bersabda, “Saya wasiatkan para pemuda kepadamu dengan baik, sebab mereka berhati halus. Ketika Allah mengutus diriku untuk menyampaikan agama yang bijaksana ini, maka kaum mudalah yang pertama-tama menyambut saya, sedang kaum tua menentangnya.”
Tetapi sesungguhnya yang terpenting diantara itu semua adalah peran vital seorang pemuda sebagai seorang agent of change, arsitek peradaban, pemegang kunci kebangkitan bangsa.
Cerminan masa depan sebuah bangsa adalah seberapa besar kualitas para pemudanya sebagai generasi  penerus. Akan mudah terbaca tingkat kemajuan sebuah bangsa jika kita melihat kualitas pemuda dari bangsa tersebut. Maka wajarlah jika kemudian kita menyebutkan bahwa salah satu solusi terpenting dalam pengentasan sebuah bangsa dari keterpurukan adalah memperhatikan, mengarahkan, dan mendidik para pemudanya. Karena pemuda merupakan poros perubahan besar bangsa, peran mereka sebagai agent of change, iron stock, dan moral force pada perubahan tersebut sangatlah vital.
Baik, sekaranglah saatnya pemuda menunjukkan aksinya di kancah kepemimpinan. Melanjutkan estafeta membangun sebuah peradaban yang madani. Menata ulang tatanan wajah bangsa yang mulai terkoyak tak karuan. Tampil menampilkan sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh siapapun juga kecuali hanya seorang pemuda.
Seperti statement seorang pembaharu asal Mesir, Hasan Al-Banna, “ Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan Pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap pemikiran, pemuda adalah pengibar panji-panjinya “.
Sejarah telah jelas mencatat banyak dari para pemuda yang menorehkan tinta emas pada lembaran perubahan. Napak tilasnya tak akan hilang ditelan zaman. Terukir abadi untuk sebuah perubahan, pemuda.
Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang sebagai seorang pemuda? Kontribusi nyata apa yang sudah kamu berikan? Sudah kamu persembahkan apa saja untuk agamamu, negerimu, bangsamu, keluargamu, atau bahkan selama ini hanya untuk dirimu sendiri?

For my lovely teachers: magangers BEM FMIPA UNS 2011
Who inspiring me
Bersama mari kita rapatkan barisan, luruskan shaf, senantiasa aktif dan produktif menuju kesuksesan dunia & akherat
12/12/2011.Telaga Al-kautsar Ar-Rayyan

READ MORE - ini semua tentangmu, dari lubuk hatiku

tong -tak- kosong

sejenak rehat, untuk sekedar mengumpulkan semangat yang sempat terserak. termenung. ternyata targetan-targetanku terlalu besar, luar biasa. bukan karena ketidakrealistisan capaian ataupun ketidakjelasan visi kedepan, tapi karena kebodohan memenej dalam pengaplikasian.
banyak sebenarnya hal yang ingin aku ungkapkan disini dan saat ini. terlalu cewek orang bilang memang, cowok itu seharusnya jarang menulis diary catatan. tapi sampai saat inipun aku belum punya sahabat yang bisa kupercaya untuk menerima curhatan-curhatan bodoh, konyol, dan kekanak-kanakan. masih malu untuk kuungkapkan. menulis memang bukan tujuan utama hidup ku, tapi setidaknya buat ku, bisa membuat semangat tujuan hidupku kembali meletup-letup.

aku bukan pahlawan berparas tampan, sayap-sayap pupus terbakar. salah benar semua pernah kulakukan, angkat gelas kita bersulang -superman is dead.
tak salah dengan lirik itu (kecuali jika yg akhirnya itu gelas berisi whiskey). begitu juga dengan band indie yang membawakannya. ah, harapan yang hanya bualan.
cukup untuk mengisi malam ini. semoga esok senantiasa lebih baik dari malam ini. let's move on, grow up, yeah.
READ MORE - tong -tak- kosong