14 May 2013

menggadai waktu, berlelah merenggut surga...

Kemudian ‘Umair bin Al Humam mengeluarkan butir-butir kurma dari kantong anak panahnya dan mulai memakannya. Namun tiba-tiba dia bergumam, “Jika aku hidup menunggu usainya menikmati kurma-kurma ini, alangkah lamanya!”
begitula kiranya, setelah kumandang perang ditabuh oleh Rasulullah SAW. "Bangkitlah kalian menuju surga yang seluas langit dan bumi !!". sahabat tersebut menggadai waktu menikmati kurma-kurma terakhirnya. dan akhirnya, gadaian itu terbalas syahidnya. tentu lebih mahal dan nikmat.
lelah kerja lillah itu rela menggadai waktu tuk rengkuh surga. menggadai waktu dengan kerja dan karya. hanya dengan itu waktu mereka digadai. tentu ibadah sebagai niat yang menyertainya. selainnya, tidak. 
mereka tahu 2 bekal itu bagi mereka tidak cukup banyak menjadi penolong kelak di akhirat. mereka tahu betul hanyasanya ampunan dan rahmat Allah lah yang menjadikan surga untuk mereka. tetapi mereka bersikeras tetap menggadaikan waktu mereka, karena mereka lebih yakin, meski senantiasa berharap-harap cemas, rahmat Allah akan turun melalui karya mereka. ampunan Allah akan luntur bersama kerja mereka. bukan suatu kesia-siaan. dan mereka tidak menyerah, apalagi mengurangi-nya dengan kemaksiatan. dengan keyakinan itu, mereka terus bekerja sembari berkarya. karena kerja dan karya mereka lillah. bukan lighairillah. kekal.

ada kenikmatan disana. kenikmatan yang terbayar setelah merintangi ujian dan cobaan. dalam bekerja dan berkarya, sudah menjadi sunnatullah, ujian dan cobaan datang menerpa. bukan kenikmatan namanya kalau belum dapat penderitaan. seperti sahabat tadi, kurma nikmat terakhirnya begitu menggoda. sayang kalau tidak dimakan. tapi ia segera tersadar, disitulah letak ujiannya. mungkin saja ia tak akan merasakan nikmat kekalnya, hanya karena kurma itu. ia merasakan feel surga yang seluas langit dan bumi. karena feel nikmat hanya didapat saat ujian dan cobaan menerpa. mereka tahu betul betapa berat konsekuensi yang harus terenggut, tapi feel mereka lebih kuat memotivasi seberapa besar pun konsekuensi yang harus mereka bayar. hanya mereka visioner, mereka yakin feel itu akan menjadi riil setelah menyelesaikan misi kerja dan karya yang penuh ujian dan cobaan tersebut. 

kenikmatan itu direngkuh di akhir. selalu begitu. dan begitu sebaliknya, penyesalan. kenikmatan kekal, jannah, ada di akhirat. bukan dunia. kalaupun ada kenikmatan di dunia, itu hanya kabar gembira yang dipercepat. sebatas kabar, bagian kecil kenikmatan kekal, kecil sekali. tapi akumulasi bagian-bagian kecil itulah yang turut membentuk feel, kabar-kabar gembira itu begitu membuat semangatnya terbakar. ia tahu puncak lelah kerjanya akan ia dapatkan. begitu juga dengan karya nya yang akan segera ia investasikan untuk manusia setelahnya. sehingga akan terbayar lah semuanya. karena, tiada totalitas dalam ibadah yang tak terbayar jannah. juga dalam kerja dan karya yang tak terbayar surga.

“Sudah lewat waktu untuk tidur saudaraku. Tiada istirahat bagi seorang mukmin kecuali di surga kelak.”