07 May 2013

No Progress


Begitu beratnya kepalaku, aku merasakannya, pusing, linglung, berat, dan melelahkan. Bukan karena memikirkan ataupun mengurus umat, bukan. Semua hanya sok. Selama ini hanya sok memikir, juga sok mengurus. Ya, tidak ada hasil dari memikirkan, tidak ada fakta dari mengurusi. Semua itu sok. Tidak lebih. Bahasa kaskusnya, no pict=hoax, no implementation=hoax, no fact=hoax.  Tapi bukan juga karena cinta muda membara, bukan. Meskipun semakin sekarang, semakin bebas berkeliaran perkataan-perkataan tidak penting keluar dari mulut ini menggoda wanita. Jijik, sungguh memalukan. Kamu hanya memindahkan kata-kata orang yang berpacaran ke semua perempuan yang kamu ajak bicara, tapi memang bukan pacarmu. Jadi kamu bisa beralasan kamu memang tidak pacaran, meskipun esensinya sama. Menjijikkan, mana kekuatan umar & noname di hatimu!

Ada yang salah dengan ini semua. Entah, akupun belum tahu pasti apa penyebabnya. Masih mencoba memetakan problem sekaligus mencari solusi. Yang pasti, kegoblogan-mu ini ngga bisa ditolerir. Bagaimana kamu bisa berbicara tentang umatmu, sedangkan dirimu masih berkutat dengan permasahalan-permasalahan sepele yang kamu sepelekan setiap hari? Bagaimana dengan umat yang diserahi Allah untuk kau urus, sedangkan yang diserahi amanah saja masih alfa, padahal bisa dijauhi. Tulikah, butakah, tertutupkah mata hati mu, hah? Atau memang asumsi bahwa kamu susah mendapat hidayah berupa kepekaan itu benar karena akumulasi kemaksiatanmu yang menggunung tinggi? Cukup tau begitu goblok kamu menghidupi keseharianmu. Padahal kamu paham semua mengharapkanmu. Asa mereka mahal, semahal ikhlas menghibahkan diri mereka untuk jama’ah. Tapi perlahan kamu melempar asa-asa mereka, dengan mudah. Sembarang tak terarah.

Nikmat dunia akankah bagimu melebihi nikmat akhirat? Kau gadaikankah kesabaranmu yang dengannya kamu bisa merengkuh surga? Begitu nikmatnya.

Perteguh prinsipmu yang kini melonggar. Perlama sujud-sujud malammu yang telah banyak terbuai tidurmu. Perbanyak lantunan-lantunan dzikirmu yang telah banyak tersita kata gombalmu kepada wanita. Perkuat ikatan Rabb-Mu, Ia telah menguatkan, hanya kamu selalu menghindar. Aku merindukan masa itu, rindu begitu dalam, tak tergambar, tak bertepi, tak terbatas, tapi terjangkau, tidak bias, dan pasti. Tiada hidup tanpa jihad, dan tiada jihad tanpa berkorban. Berkorban menghilangkan sejenak, sejenak saja, bayangan ingin mendapatkan pujian-pujian di dunia. Karena sebentar lagi kamu juga mati.

Coba pelan-pelan perbaiki. Itu shalat nafilah, shaf pertama dengan takbiratul ihram pertama imam, do’a khususnya untuk kedua orang tuamu, 2 lembar qur’an, sudahkah menyertai 5 waktumu sehari? Shalat dhuha, shalat tahajjud, sedekah. Masih ingatkah dirimu dengan kekuatan mata hati para sahabat nabi SAW, yang didapat karena ibadah-ibadah penguat ruhiyah mereka?

“karena tidaklah kamu mengamalkan ‘mujaahidun li hawahu’ –yang kuat terhadap hawa nafsunya, kecuali menyertainya halaawatul ibadah, manisnya beribadah”. Yang juga kamu ingat bahwa terlahir halaawatul iimaan dari halaawah ‘ibadah dengan totalitasnya, tidak setengah-setengah dengan hawa nafsu. Jadi jika ibadahmu selama ini masih belum berdampak apa-apa, kamu susah menikmati, hati-hati, jangan-jangan selama ini kamu masih menjadi budak hawa nafsumu. Dan tentunya akan berdampak dengan imanmu. Kemudian membintik-hitamkan hatimu. Semuanya tertutup, hidayah susah masuk, juga jasadmu menjadi rusak. Secara perlahan. Perlahan tapi pasti, hanya menunggu waktu yang tepat. Semakin goblok, serba menggantung, terhimpit, ngga bahagia dan tentu penyakitan!

Astaghfirullah, padahal aku merasa selama ini nikmat-nikmat mengalir lancar. Begitu dimudahkannya urusan-urusanku. Hidupku semakin luwes. Tapi aku sadar bahwa banyak agenda-agenda yang aku lalaikan, susahnya aku dalam menentukan prioritas. Dan tidak aku lupakan sama sekali quote “tanda-tanda berkahnya amal shalih adalah lahirnya amal shalih berikutnya, yang berkesinambungan”. Aku takut ya Allah, takut. Istidraj, istidraj, istidraj itu, aku memohon ampunan kepada-Mu Allah, aku takut istidraj.

Engkau tempat memohon pertolongan. Kepada-Mu lah segala ketergantungan. Engkau lah pemberi luasnya  maghfirah dan hidayah pada jalan yang lurus.