Begitu beratnya kepalaku, aku merasakannya, pusing,
linglung, berat, dan melelahkan. Bukan karena memikirkan ataupun mengurus umat,
bukan. Semua hanya sok. Selama ini hanya sok memikir, juga sok mengurus. Ya,
tidak ada hasil dari memikirkan, tidak ada fakta dari mengurusi. Semua itu sok.
Tidak lebih. Bahasa kaskusnya, no pict=hoax, no implementation=hoax, no
fact=hoax. Tapi bukan juga karena cinta
muda membara, bukan. Meskipun semakin sekarang, semakin bebas berkeliaran
perkataan-perkataan tidak penting keluar dari mulut ini menggoda wanita. Jijik,
sungguh memalukan. Kamu hanya memindahkan kata-kata orang yang berpacaran ke
semua perempuan yang kamu ajak bicara, tapi memang bukan pacarmu. Jadi kamu
bisa beralasan kamu memang tidak pacaran, meskipun esensinya sama. Menjijikkan,
mana kekuatan umar & noname di hatimu!
Ada yang salah dengan ini semua. Entah, akupun belum tahu
pasti apa penyebabnya. Masih mencoba memetakan problem sekaligus mencari
solusi. Yang pasti, kegoblogan-mu ini ngga bisa ditolerir. Bagaimana kamu bisa
berbicara tentang umatmu, sedangkan dirimu masih berkutat dengan
permasahalan-permasalahan sepele yang kamu sepelekan setiap hari? Bagaimana
dengan umat yang diserahi Allah untuk kau urus, sedangkan yang diserahi amanah
saja masih alfa, padahal bisa dijauhi. Tulikah, butakah, tertutupkah mata hati
mu, hah? Atau memang asumsi bahwa kamu susah mendapat hidayah berupa kepekaan
itu benar karena akumulasi kemaksiatanmu yang menggunung tinggi? Cukup tau begitu
goblok kamu menghidupi keseharianmu. Padahal kamu paham semua mengharapkanmu. Asa
mereka mahal, semahal ikhlas menghibahkan diri mereka untuk jama’ah. Tapi
perlahan kamu melempar asa-asa mereka, dengan mudah. Sembarang tak terarah.
Nikmat dunia akankah bagimu melebihi nikmat akhirat? Kau
gadaikankah kesabaranmu yang dengannya kamu bisa merengkuh surga? Begitu
nikmatnya.
Perteguh prinsipmu yang kini melonggar. Perlama sujud-sujud
malammu yang telah banyak terbuai tidurmu. Perbanyak lantunan-lantunan dzikirmu
yang telah banyak tersita kata gombalmu kepada wanita. Perkuat ikatan Rabb-Mu,
Ia telah menguatkan, hanya kamu selalu menghindar. Aku merindukan masa itu, rindu
begitu dalam, tak tergambar, tak bertepi, tak terbatas, tapi terjangkau, tidak
bias, dan pasti. Tiada hidup tanpa jihad, dan tiada jihad tanpa berkorban.
Berkorban menghilangkan sejenak, sejenak saja, bayangan ingin mendapatkan
pujian-pujian di dunia. Karena sebentar lagi kamu juga mati.
Coba pelan-pelan perbaiki. Itu shalat nafilah, shaf pertama
dengan takbiratul ihram pertama imam, do’a khususnya untuk kedua orang tuamu, 2
lembar qur’an, sudahkah menyertai 5 waktumu sehari? Shalat dhuha, shalat
tahajjud, sedekah. Masih ingatkah dirimu dengan kekuatan mata hati para sahabat
nabi SAW, yang didapat karena ibadah-ibadah penguat ruhiyah mereka?
“karena tidaklah kamu mengamalkan ‘mujaahidun li hawahu’
–yang kuat terhadap hawa nafsunya, kecuali menyertainya halaawatul ibadah,
manisnya beribadah”. Yang juga kamu ingat bahwa terlahir halaawatul iimaan dari
halaawah ‘ibadah dengan totalitasnya, tidak setengah-setengah dengan hawa
nafsu. Jadi jika ibadahmu selama ini masih belum berdampak apa-apa, kamu susah
menikmati, hati-hati, jangan-jangan selama ini kamu masih menjadi budak hawa
nafsumu. Dan tentunya akan berdampak dengan imanmu. Kemudian membintik-hitamkan
hatimu. Semuanya tertutup, hidayah susah masuk, juga jasadmu menjadi rusak.
Secara perlahan. Perlahan tapi pasti, hanya menunggu waktu yang tepat. Semakin
goblok, serba menggantung, terhimpit, ngga bahagia dan tentu penyakitan!
Astaghfirullah, padahal aku merasa selama ini nikmat-nikmat
mengalir lancar. Begitu dimudahkannya urusan-urusanku. Hidupku semakin luwes. Tapi
aku sadar bahwa banyak agenda-agenda yang aku lalaikan, susahnya aku dalam
menentukan prioritas. Dan tidak aku lupakan sama sekali quote “tanda-tanda
berkahnya amal shalih adalah lahirnya amal shalih berikutnya, yang
berkesinambungan”. Aku takut ya Allah, takut. Istidraj, istidraj, istidraj itu,
aku memohon ampunan kepada-Mu Allah, aku takut istidraj.
Engkau tempat memohon pertolongan. Kepada-Mu lah segala
ketergantungan. Engkau lah pemberi luasnya
maghfirah dan hidayah pada jalan yang lurus.
