Segala puji hanya untuk Allah,
tiada Tuhan kecuali Dia yang maha Benar. Kita berlindung kepada-Nya dari ilmu
yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak takut kepada-Nya, dari jiwa yang
tidak tenang dan senatiasa gelisah, serta dari doa yang tidak dikabulkan
oleh-Nya.
Shalawat dan salam hanya teruntuk
Utusan mulia, kekasih-Nya, Muhammad beserta keluarga, sahabat, tabi’in, tabiut
tabi’in, dan orang-orang shalih setelahnya. Semoga kita juga termasuk diantaranya.
Ada statement yang baru aku dapatkan dan sungguh
bisa membuat kita terintropeksi.
“Kita
jangan dibuat senang oleh banyaknya pemuda muslim di Indonesia yang menjadi negara
mayoritas muslim ini, tapi kita harus dibuat risau oleh sedikitnya mereka yang
bertahan dalam kehanifan identitas keislaman mereka serta produktifitas mereka
sebagai generasi harapan islam dan bangsa”.
Ironi memang, tapi itulah kenyataan sekarang dan
semoga tidak untuk kedepannya. Semoga tidak termasuk kita di dalamnya. Sungguh
mengerikan jika kita mencoba untuk menerawang masa depan islam dan negara ini. Coba
sedikit kita camkan fakta ini. Indonesia yang saat ini masih menjadi negara berpenduduk
mayoritas muslim terbesar dunia, ternyata menjadi negara ke-63 sebagai calon negara
gagal dari 178 negara-negara yang ada. Dan itu menjadikan indonesia termasuk
dalam negara-negara yang terkena zona terdegradasi menjadi negara gagal. Bukan itu
saja yang menyedihkan kita, bahkan yang menduduki peringkat pertama untuk negara
gagal adalah negara Somalia, salah satu negara di afrika yang notabene berpenduduk
mayoritas muslim juga.
Dan mungkin
akan menjadikan kita lebih terintopeksi, karena sesungguhnya yang menempati urutan
pertama negara yang terbaik dan tersukses adalah negera Finlandia. Dan telah
kita ketahui bersama, negara tersebut bukanlah negara yang bernotabene islam,
meskipun mereka menerapkan nilai-nilai dan konsep islam di dalam bernegara. Bukan
berarti saya membenci mereka. Tetapi Setidaknya dan semoga itu bisa menjadi
cambuk untuk kita semua. What do you
think about it?
Atau jangan-jangan selama ini kita-pun tidak pernah
peka terhadap lingkungan islam sekitar kita, tidak pernah respect terhadap negeri Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim
ini, sehingga ketika negeri ini di hinakan oleh yang lainnya, setidaknya kita
juga merasa bahwa agama islam ini juga akan terkena dampaknya? Seperti dengan
sebutan negeri mayoritas muslim yang juga negeri penuh kekerasan, intoleransi,
kotor dan kumuh, kebodohan dan kemiskinan merajalela.
Atau mungkin tidak pernah peduli dengan kondisi
negeri muslim internasional, seperti negara Palestina yang sedang terjajah
sekarang ini, kita pun tidak pernah sama sekali terpikirkan dan tergerak olehnya.
Hanya terlena dunia dan kesenangannya saja selama ini kita cari? Padahal keadaan
dunia islam benar-benar sedang membutuhkan kita? Tertekan, terhimpit, terhinakan.
Semoga kita tidak termasuk didalamnya. Where
are you, young militant mosleim?
Islam yang memiliki pandangan yang sebegitu komprehensif
dan menyeluruh-nya dalam kehidupan ini, mencintai keindahan, mengapresiasi
intelektualitas, menjunjung tinggi perdamaian, berperadaban madani, seharusnya
mampu menjadi contoh dan teladan. Memberikan inspirasi kebaikan bagi sekitar
dan negara lainnya. Bukan malah menjadi bahan hinaan dan cemoohan negara-negara
lain. Bahwa islam itu kotor, anarkis, bodoh, mskin, terbelakang dengan melihat
fenomena-fenomena yang ada. Atau bahkan, kita malah diberi contoh oleh negara yang
notabene bukan negara mayoritas muslim, seperti Finlandia, Jepang, Swiss, Dll. Karena
sesungguhnya mereka lebih memaknai nilai-nilai islam dan mengaplikasikan
konsepnya daripada kita sebagai seorang muslim dalam menjalani kehidupan
bernegara ini. Mungkin lebih tepatnya kita memakai istilah islam akan tetap mulia
bukan dengan dan dari tangan seorang muslim. So, what should we do?
Misi kita sebagai seorang reformis adalah perbaikan
dan perubahan. Perbaikan dan perubahan secara menyeluruh, tetapi tetap perlahan-lahan
dalam pengaplikasiannya. Mari mulai dari sekarang kita tidak hanya menjadi seorang
yang shalih secara individu, tapi juga shalih secara social. Perhatian-perhatian
kita seharusnya jangan hanya berkutat untuk urusan diri sendiri. tetapi lebih
dari itu, karena memang kita sedang dituntut lebih dari ummat ini. Seperti Firman
Allah dalam ayat yang pertama kali diturunkan oleh-Nya, Al-‘Alaq 1:
“ iqra’ bismi
rabbika alladzi khalaq”-
Perhatikan, Iqra’!
Allah menyuruh kita untuk membaca. Membaca semuanya. Allah tidak membatasi
bacaan hanya pada buku secara mutlak. Dalam tata bahasa Arab, seharusnya kata qara’a
termasuk fi’il/predikat yang membutuhkan maf’ul bihi/ objek, tetapi lihat dan
perhatikan ayat itu. Oleh-Nya, kita diperintahkan untuk membaca dengan nama-Nya,
tanpa objek. Tanpa objek sama sekali. Ini merupakan tanda bahwa kita tidak diperintahkan
untuk membaca buku, saja. Tetapi juga diperintahkan untuk membaca secara umum,
membaca alam ini, membaca kondisi social di sekitar kita, membaca kondisi umat,
negara, dan semuanya yang ada dipermukaan bumi-Nya. Karena sesungguhnya islam
agama yang mengurus semua sendi-sendi kehidupan. Maka, kita, sebagai seorang
muslim, dituntut untuk memperhatikan dan menjaganya. Lebih tepatnya kita
diperintahkan untuk lebih peka dan dituntut lebih mempunyai perhatian khusus
terhadap lingkungan sekitar kita, alam, manusia, sistem, budaya, dll. IQRA’!!! ya
ikhwaniii al-‘aizza’.
Seorang muslim, terlebih dari pemudanya, seharusnya
mampu menginisiasi dirinya untuk senantiasa
bergerak menjadi problem solver terhadap
permasalahan ummat yang ada di sekitarnya dan harus senantiasa dirangsang
kepekaannya untuk kehidupan yang lebih baik, apapun kondisi dan situasinya. Serta
dapat merealisasikannya menjadi aksi nyata dalam kehidupan. Pengorbanan yang
besar memang suatu konsekuensi untuk itu semua. Mempersembahkan hal yang paling
asasi dari apa-apa yang kita miliki demi meraih tujuan mulia. Islam rahmatan
lil ‘alamin.
“yaa ayyuha
alladzina amanu hal adullukum ‘ala tijaratin tunjikum min ‘adzabin ‘alim” ash-shaff:
10.
“inna allaha
yasytara minal mu’minina anfusahum wa amwalahum bianna lahumu al-jannah” –at-taubah:
111.
Ya Rabbi, ampunkanlah segala dosa kami. Maafkanlah kejahilan
hamba-Mu ini.
Kami semangat baru, siap maju hancur semua musuh,
kami tentara Allah, siap korbankan harta bahkan jiwa.
Wallahu a’lamu bi ash-showwab.