22 June 2012

Indonesia terbelakang karena ISLAM !? atau sebaliknya ?!


Segala puji hanya untuk Allah, tiada Tuhan kecuali Dia yang maha Benar. Kita berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak takut kepada-Nya, dari jiwa yang tidak tenang dan senatiasa gelisah, serta dari doa yang tidak dikabulkan oleh-Nya.

Shalawat dan salam hanya teruntuk Utusan mulia, kekasih-Nya, Muhammad beserta keluarga, sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan orang-orang shalih setelahnya. Semoga kita juga termasuk diantaranya.

Ada statement yang baru aku dapatkan dan sungguh bisa membuat kita terintropeksi.
“Kita jangan dibuat senang oleh banyaknya pemuda muslim di Indonesia yang menjadi negara mayoritas muslim ini, tapi kita harus dibuat risau oleh sedikitnya mereka yang bertahan dalam kehanifan identitas keislaman mereka serta produktifitas mereka sebagai generasi harapan islam dan bangsa”.
Ironi memang, tapi itulah kenyataan sekarang dan semoga tidak untuk kedepannya. Semoga tidak termasuk kita di dalamnya. Sungguh mengerikan jika kita mencoba untuk menerawang masa depan islam dan negara ini. Coba sedikit kita camkan fakta ini. Indonesia yang saat ini masih menjadi negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar dunia, ternyata menjadi negara ke-63 sebagai calon negara gagal dari 178 negara-negara yang ada. Dan itu menjadikan indonesia termasuk dalam negara-negara yang terkena zona terdegradasi menjadi negara gagal. Bukan itu saja yang menyedihkan kita, bahkan yang menduduki peringkat pertama untuk negara gagal adalah negara Somalia, salah satu negara di afrika yang notabene berpenduduk mayoritas muslim juga.
 Dan mungkin akan menjadikan kita lebih terintopeksi, karena sesungguhnya yang menempati urutan pertama negara yang terbaik dan tersukses adalah negera Finlandia. Dan telah kita ketahui bersama, negara tersebut bukanlah negara yang bernotabene islam, meskipun mereka menerapkan nilai-nilai dan konsep islam di dalam bernegara. Bukan berarti saya membenci mereka. Tetapi Setidaknya dan semoga itu bisa menjadi cambuk untuk kita semua. What do you think about it?

Atau jangan-jangan selama ini kita-pun tidak pernah peka terhadap lingkungan islam sekitar kita, tidak pernah respect terhadap negeri Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim ini, sehingga ketika negeri ini di hinakan oleh yang lainnya, setidaknya kita juga merasa bahwa agama islam ini juga akan terkena dampaknya? Seperti dengan sebutan negeri mayoritas muslim yang juga negeri penuh kekerasan, intoleransi, kotor dan kumuh, kebodohan dan kemiskinan merajalela.
Atau mungkin tidak pernah peduli dengan kondisi negeri muslim internasional, seperti negara Palestina yang sedang terjajah sekarang ini, kita pun tidak pernah sama sekali terpikirkan dan tergerak olehnya. Hanya terlena dunia dan kesenangannya saja selama ini kita cari? Padahal keadaan dunia islam benar-benar sedang membutuhkan kita? Tertekan, terhimpit, terhinakan. Semoga kita tidak termasuk didalamnya. Where are you, young militant mosleim?

Islam yang memiliki pandangan yang sebegitu komprehensif dan menyeluruh-nya dalam kehidupan ini, mencintai keindahan, mengapresiasi intelektualitas, menjunjung tinggi perdamaian, berperadaban madani, seharusnya mampu menjadi contoh dan teladan. Memberikan inspirasi kebaikan bagi sekitar dan negara lainnya. Bukan malah menjadi bahan hinaan dan cemoohan negara-negara lain. Bahwa islam itu kotor, anarkis, bodoh, mskin, terbelakang dengan melihat fenomena-fenomena yang ada. Atau bahkan, kita malah diberi contoh oleh negara yang notabene bukan negara mayoritas muslim, seperti Finlandia, Jepang, Swiss, Dll. Karena sesungguhnya mereka lebih memaknai nilai-nilai islam dan mengaplikasikan konsepnya daripada kita sebagai seorang muslim dalam menjalani kehidupan bernegara ini. Mungkin lebih tepatnya kita memakai istilah islam akan tetap mulia bukan dengan dan dari tangan seorang muslim. So, what should we do?

Misi kita sebagai seorang reformis adalah perbaikan dan perubahan. Perbaikan dan perubahan secara menyeluruh, tetapi tetap perlahan-lahan dalam pengaplikasiannya. Mari mulai dari sekarang kita tidak hanya menjadi seorang yang shalih secara individu, tapi juga shalih secara social. Perhatian-perhatian kita seharusnya jangan hanya berkutat untuk urusan diri sendiri. tetapi lebih dari itu, karena memang kita sedang dituntut lebih dari ummat ini. Seperti Firman Allah dalam ayat yang pertama kali diturunkan oleh-Nya, Al-‘Alaq 1:
iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq”-
Perhatikan, Iqra’! Allah menyuruh kita untuk membaca. Membaca semuanya. Allah tidak membatasi bacaan hanya pada buku secara mutlak. Dalam tata bahasa Arab, seharusnya kata qara’a termasuk fi’il/predikat yang membutuhkan maf’ul bihi/ objek, tetapi lihat dan perhatikan ayat itu. Oleh-Nya, kita diperintahkan untuk membaca dengan nama-Nya, tanpa objek. Tanpa objek sama sekali. Ini merupakan tanda bahwa kita tidak diperintahkan untuk membaca buku, saja. Tetapi juga diperintahkan untuk membaca secara umum, membaca alam ini, membaca kondisi social di sekitar kita, membaca kondisi umat, negara, dan semuanya yang ada dipermukaan bumi-Nya. Karena sesungguhnya islam agama yang mengurus semua sendi-sendi kehidupan. Maka, kita, sebagai seorang muslim, dituntut untuk memperhatikan dan menjaganya. Lebih tepatnya kita diperintahkan untuk lebih peka dan dituntut lebih mempunyai perhatian khusus terhadap lingkungan sekitar kita, alam, manusia, sistem, budaya, dll. IQRA’!!! ya ikhwaniii al-‘aizza’.

Seorang muslim, terlebih dari pemudanya, seharusnya mampu menginisiasi dirinya untuk  senantiasa bergerak menjadi problem solver terhadap permasalahan ummat yang ada di sekitarnya dan harus senantiasa dirangsang kepekaannya untuk kehidupan yang lebih baik, apapun kondisi dan situasinya. Serta dapat merealisasikannya menjadi aksi nyata dalam kehidupan. Pengorbanan yang besar memang suatu konsekuensi untuk itu semua. Mempersembahkan hal yang paling asasi dari apa-apa yang kita miliki demi meraih tujuan mulia. Islam rahmatan lil ‘alamin.
yaa ayyuha alladzina amanu hal adullukum ‘ala tijaratin tunjikum min ‘adzabin ‘alim” ash-shaff: 10.
inna allaha yasytara minal mu’minina anfusahum wa amwalahum bianna lahumu al-jannah” –at-taubah: 111.
Ya Rabbi, ampunkanlah segala dosa kami. Maafkanlah kejahilan hamba-Mu ini.
Kami semangat baru, siap maju hancur semua musuh, kami tentara Allah, siap korbankan harta bahkan jiwa.
Wallahu a’lamu bi ash-showwab.