saya punya cerita tentang hari ini bro. cukup men-tratap-in hati, menyayat dalam, dalam sekali. perih. tapi, ini realita, fenomena yang ada. dan mari buka mata untuk ini semua. bukan karena buka mata karena jika tutup mata membuat semakin terasa sayatan, bukan. tapi buka mata, dengan melihat sekitar, untuk coba berikan ide perbaikan, juga sekaligus aksi sebagai amalan.
sekedar diskusi untuk mengkonsep, sudah banyak yang buat, jangan terlalu berkutat. takut endingnya ngga kesikat. sibuk retorik, nol impelementasi. cukup diskusi sedikit, tapi matang, bubuhkan sedikit different value of giving, semacam pemberian dengan nilai keunikan yang sama sekali berbeda dengan biasanya, dan aksikan.
check it out->
aksi hari ini : mau aksi demonstrasi, sedikit yang ikut, ngaku-ngaku atas nama mahasiswa, eh taunya banyak yang nentang dari kalangan sendiri (mahasiswa, red). masuk koran, oke..tapi space berita cuma 5x10cm, no pic lagi, kecil bener. boro-boro masuk headline, orang aksi aja hasil ngangkat berita headline :-)
oke kawan, kita sepakat sebelum aksi harus ada pencerdasan dulu, mari diskusi.
diskusi hari ini: sok-sokan betul ngerasa paling bener, data kasus juga ambil dari koran, bercerca ngomong banyak, ternyata ada ahli yang lagi mendebat (meski bayaran). ngomong sana sini, tapi nol implementasi. indah nian retorika nya, tapi dalam membual kata. ngeloyor kesana kemari. btw, emang aksi cuma demontrasi, ha?
bro, nyesek. setelah saya pikir, ada benernya juga, meski dirasa ada salah. ngeselin bacanya, tapi itu ungkapan realita. kagak usah nge-les lah kita. mari kita buat yang baru... yang berbeda... tapi tetep dalam visi gerakan memperbaiki bangsa dan negara.
susah ya, merasa betul jadi warga indonesia yang penuh permasalahan kompleks di dalamnya. kegelisahan muncul. dan memang terasa, lingkungan semakin butuh perbaikan. dengan cara apapun itu.
tetapi ingat bro, dengan cara kita, kita -masih- sedikit. tidak banyak. memaksakan kehendak, sah-sah saja. tapi perlu diingat, jangan berlebihan sampai memaksa orang lain harus se ide dengan kita, seperti mengikuti kita dalam ber-peduli terhadap negeri hari ini, aksi demonstrasi misalnya.
hari ini kita berada didalam hari-hari demokrasi. mereka juga geli, sekaligus jijik melihatnya. mereka sadar, tapi belum gelisah. tapi, ini demokrasi, mereka sah-sah juga memilih jalur lain, atau bahkan sekedar membenci aksi demonstrasi itu sendiri. mungkin, yang penting, bagi mereka bisa eksis dengan jalur tersebut. dalam benak mereka, mereka sukses itu karena usaha mereka, bukan orang lain. persetan dengan yang lain, mumpung lagi demokrasi, saya harus eksis sendiri.
atau jangan2, kamu aksi demonstrasi atau duduk berdiskudi selama ini itu bukan karena kegelisahanmu, tapi hanya ingin terlihat eksis seperti mereka? kasihan sekali kamu.
daripada mendemo hasil perpolitikan yang bagi mereka sama aja kepentok pada kesimpulan 'ada atau tidak adanya dirimu, itu sama saja bagiku, kesejahteraanku bertumpu pada ototku', lebih baik macul saja kamu. akibat hanyasanya karena tidak ada kesadaran yang memunculkan kegelisahan kolektif.
ada tren yang jauh berbeda masa kini. dengan dulu '98 misalnya. semua objek hanya ingin ruang kreatifitas mereka tak dibatasi, tapi hanya karena ada subjek yang membatasi, si objek tidak terima. objek banyak dan merata di seluruh wilayah. dengan tentu, semua objek sepakat bahwa dengan menghancurkan subjek yang membatasi tsb, maka kreatifitas mereka akan berkembang. dan itu merupakan satu2nya jalan. dalam jumlah yang massiv dan menjadi kesepakatan bersama bahwa subjek tsb adalah pemerintah, objek berbondong2 membredel subjek. semua sepakat satu suara. meskipun berbeda-beda yang melatari kreatifitasnya.
baca dan cermati. sengat kontras dengan sekarang. demokrasi lah yang menciptakan kondisi ini. dan kita lah yang membuka kran dari kondisi tsb. bukan saatnya meratap, demikian terlebih menghujat. not a sollution. demokrasi yang membuat mereka merasa bisa menshow-up diri mereka sebisa dan dengan cara se-mereka mungkin. apapun yang mereka lakukan, suka-suka asal sesuai hukum dan ham, itu sah-sah saja dalam demokrasi. jadi, jika mereka tidak mau berdemo menuntut negara dengan cara kita, itu sangat sah, dan wajar. karena mereka sebagai objek, tidak ada yang dibatasi kreatifitasnya. meskipun memang subjeknya sedang merusak.
tapi kita bisa berikan sentuhan kepada mereka, sentuhan yang berbeda. sentuhan pencerdasan dengan sisi lain sesuai dengan minat dan bakat mereka. sesuai interest mereka. dan itu sah-sah saja dalam demokrasi. terdapat semacam different value pada konsep yang berbeda yang -hampir- jarang dipakai.
ingat kawan, si objek masih punya tugas yang sama, memperbaiki negeri, yang salah satunya nyentil pemerintah. meski belum tergugah. artinya, sangat sah juga jika mereka menuntut perbaikan negeri dengan cara mereka, dengan kreatifitas mereka.
kita bersama-sama menyentil subjek, tanpa merubah objek menjadi seperti kita semua.
ya kan?
ini tugas kita. hanya tinggal bagaimana cara kita mengomunikasikan kepada mereka dengan cerdas. disitu letak differensiasi value of giving. kita memberikan pencerdasan agar mereka tergugah dan peduli terhadap negeri dengan cara manfaatkan kreatifitas mereka, bukan paksa orangnya. instrumen lain dari diri objek, selain pemikiran si objek, sesuatu yang dimanfaatkan objek ! objek-nya objek. dan kita manfaatkan itu.
konkritnya, ada banyak alternatif. seperti misal, kita buat komunitas (dalam gerakan massif), atau bina komunitas, atau jalin komunikasi dengan komunitas lain. kita serukan aksi perbaiki negeri bersama dengan cara masing-masing, dengan tetap terjalin harmoni, tanpa ada yang menjadi subjek baru, atau harus menjadi satu objek....
