15 June 2013

MABA FMIPA UNS 2013, sugeng rawuh . . .


SELAMAT DATANG kepada teman-teman mahasiswa baru FMIPA UNS 2013. disilakan bagi yang ingin mendapatkan info-info tentang ke-FMIPA-UNS-an untuk mengakses alamat berikut :

https://www.facebook.com/groups/564524470266343/ -> RUMAH MABA 2013 FMIPA UNS


segala informasi bisa ditanyakan di group tersebut. terima kasih atas perhatiannya :-)
READ MORE - MABA FMIPA UNS 2013, sugeng rawuh . . .

20 May 2013

sedikit sentuhan yang berbeda

saya punya cerita tentang hari ini bro. cukup men-tratap-in hati, menyayat dalam, dalam sekali. perih. tapi, ini realita, fenomena yang ada. dan mari buka mata untuk ini semua. bukan karena buka mata karena jika tutup mata membuat semakin terasa sayatan, bukan. tapi buka mata, dengan melihat sekitar, untuk coba berikan ide perbaikan, juga sekaligus aksi sebagai amalan.
sekedar diskusi untuk mengkonsep, sudah banyak yang buat, jangan terlalu berkutat. takut endingnya ngga kesikat. sibuk retorik, nol impelementasi. cukup diskusi sedikit, tapi matang, bubuhkan sedikit different value of giving, semacam pemberian dengan nilai keunikan yang sama sekali berbeda dengan biasanya, dan aksikan.

check it out->
aksi hari ini : mau aksi demonstrasi, sedikit yang ikut, ngaku-ngaku atas nama mahasiswa, eh taunya banyak yang nentang dari kalangan sendiri (mahasiswa, red). masuk koran, oke..tapi space berita cuma 5x10cm, no pic lagi, kecil bener. boro-boro masuk headline, orang aksi aja hasil ngangkat berita headline :-)

oke kawan, kita sepakat sebelum aksi harus ada pencerdasan dulu, mari diskusi.
diskusi hari ini: sok-sokan betul ngerasa paling bener, data kasus juga ambil dari koran, bercerca ngomong banyak, ternyata ada ahli yang lagi mendebat (meski bayaran). ngomong sana sini, tapi nol implementasi. indah nian retorika nya, tapi dalam membual kata. ngeloyor kesana kemari. btw, emang aksi cuma demontrasi, ha?

bro, nyesek. setelah saya pikir, ada benernya juga, meski dirasa ada salah. ngeselin bacanya, tapi itu ungkapan realita. kagak usah nge-les lah kita. mari kita buat yang baru... yang berbeda... tapi tetep dalam visi gerakan memperbaiki bangsa dan negara. 
susah ya, merasa betul jadi warga indonesia yang penuh permasalahan kompleks di dalamnya. kegelisahan muncul. dan memang terasa, lingkungan semakin butuh perbaikan. dengan cara apapun itu.
tetapi ingat bro, dengan cara kita, kita -masih- sedikit. tidak banyak. memaksakan kehendak, sah-sah saja. tapi perlu diingat, jangan berlebihan sampai memaksa orang lain harus se ide dengan kita, seperti mengikuti kita dalam ber-peduli terhadap negeri hari ini, aksi demonstrasi misalnya.

hari ini kita berada didalam hari-hari demokrasi. mereka juga geli, sekaligus jijik melihatnya. mereka sadar, tapi belum gelisah. tapi, ini demokrasi, mereka sah-sah juga memilih jalur lain, atau bahkan sekedar membenci aksi demonstrasi itu sendiri. mungkin, yang penting, bagi mereka bisa eksis dengan jalur tersebut. dalam benak mereka, mereka sukses itu karena usaha mereka, bukan orang lain. persetan dengan yang lain, mumpung lagi demokrasi, saya harus eksis sendiri. 
atau jangan2, kamu aksi demonstrasi atau duduk berdiskudi selama ini itu bukan karena kegelisahanmu, tapi hanya ingin terlihat eksis seperti mereka? kasihan sekali kamu.
daripada mendemo hasil perpolitikan yang bagi mereka sama aja kepentok pada kesimpulan 'ada atau tidak adanya dirimu, itu sama saja bagiku, kesejahteraanku bertumpu pada ototku', lebih baik macul saja kamu. akibat hanyasanya karena tidak ada kesadaran yang memunculkan kegelisahan kolektif.

ada tren yang jauh berbeda masa kini. dengan dulu '98 misalnya. semua objek hanya ingin ruang kreatifitas mereka tak dibatasi, tapi hanya karena ada subjek yang membatasi, si objek tidak terima. objek banyak dan merata di seluruh wilayah. dengan tentu, semua objek sepakat bahwa dengan menghancurkan subjek yang membatasi tsb, maka kreatifitas mereka akan berkembang. dan itu merupakan satu2nya jalan. dalam jumlah yang massiv dan menjadi kesepakatan bersama bahwa subjek tsb adalah pemerintah, objek berbondong2 membredel subjek. semua sepakat satu suara. meskipun berbeda-beda yang melatari kreatifitasnya.

baca dan cermati. sengat kontras dengan sekarang. demokrasi lah yang menciptakan kondisi ini. dan kita lah yang membuka kran dari kondisi tsb. bukan saatnya meratap, demikian terlebih menghujat. not a sollution. demokrasi yang membuat mereka merasa bisa menshow-up diri mereka sebisa dan dengan cara se-mereka mungkin. apapun yang mereka lakukan, suka-suka asal sesuai hukum dan ham, itu sah-sah saja dalam demokrasi. jadi, jika mereka tidak mau berdemo menuntut negara dengan cara kita, itu sangat sah, dan wajar. karena mereka sebagai objek, tidak ada yang dibatasi kreatifitasnya. meskipun memang subjeknya sedang merusak.
tapi kita bisa berikan sentuhan kepada mereka, sentuhan yang berbeda. sentuhan pencerdasan dengan sisi lain sesuai dengan minat dan bakat mereka. sesuai interest mereka. dan itu sah-sah saja dalam demokrasi. terdapat semacam different value pada konsep yang berbeda yang -hampir- jarang dipakai.

ingat kawan, si objek masih punya tugas yang sama, memperbaiki negeri, yang salah satunya nyentil pemerintah. meski belum tergugah. artinya, sangat sah juga jika mereka menuntut perbaikan negeri dengan cara mereka, dengan kreatifitas mereka.
kita bersama-sama menyentil subjek, tanpa merubah objek menjadi seperti kita semua. 
ya kan? 
ini tugas kita. hanya tinggal bagaimana cara kita mengomunikasikan kepada mereka dengan cerdas. disitu letak differensiasi value of giving. kita memberikan pencerdasan agar mereka tergugah dan peduli terhadap negeri dengan cara manfaatkan kreatifitas mereka, bukan paksa orangnya. instrumen lain dari diri objek, selain pemikiran si objek, sesuatu yang dimanfaatkan objek ! objek-nya objek. dan kita manfaatkan itu.



konkritnya, ada banyak alternatif. seperti misal, kita buat komunitas (dalam gerakan massif), atau bina komunitas, atau jalin komunikasi dengan komunitas lain. kita serukan aksi perbaiki negeri bersama dengan cara masing-masing, dengan tetap terjalin harmoni, tanpa ada yang menjadi subjek baru, atau harus menjadi satu objek....
READ MORE - sedikit sentuhan yang berbeda

14 May 2013

menggadai waktu, berlelah merenggut surga...

Kemudian ‘Umair bin Al Humam mengeluarkan butir-butir kurma dari kantong anak panahnya dan mulai memakannya. Namun tiba-tiba dia bergumam, “Jika aku hidup menunggu usainya menikmati kurma-kurma ini, alangkah lamanya!”
begitula kiranya, setelah kumandang perang ditabuh oleh Rasulullah SAW. "Bangkitlah kalian menuju surga yang seluas langit dan bumi !!". sahabat tersebut menggadai waktu menikmati kurma-kurma terakhirnya. dan akhirnya, gadaian itu terbalas syahidnya. tentu lebih mahal dan nikmat.
lelah kerja lillah itu rela menggadai waktu tuk rengkuh surga. menggadai waktu dengan kerja dan karya. hanya dengan itu waktu mereka digadai. tentu ibadah sebagai niat yang menyertainya. selainnya, tidak. 
mereka tahu 2 bekal itu bagi mereka tidak cukup banyak menjadi penolong kelak di akhirat. mereka tahu betul hanyasanya ampunan dan rahmat Allah lah yang menjadikan surga untuk mereka. tetapi mereka bersikeras tetap menggadaikan waktu mereka, karena mereka lebih yakin, meski senantiasa berharap-harap cemas, rahmat Allah akan turun melalui karya mereka. ampunan Allah akan luntur bersama kerja mereka. bukan suatu kesia-siaan. dan mereka tidak menyerah, apalagi mengurangi-nya dengan kemaksiatan. dengan keyakinan itu, mereka terus bekerja sembari berkarya. karena kerja dan karya mereka lillah. bukan lighairillah. kekal.

ada kenikmatan disana. kenikmatan yang terbayar setelah merintangi ujian dan cobaan. dalam bekerja dan berkarya, sudah menjadi sunnatullah, ujian dan cobaan datang menerpa. bukan kenikmatan namanya kalau belum dapat penderitaan. seperti sahabat tadi, kurma nikmat terakhirnya begitu menggoda. sayang kalau tidak dimakan. tapi ia segera tersadar, disitulah letak ujiannya. mungkin saja ia tak akan merasakan nikmat kekalnya, hanya karena kurma itu. ia merasakan feel surga yang seluas langit dan bumi. karena feel nikmat hanya didapat saat ujian dan cobaan menerpa. mereka tahu betul betapa berat konsekuensi yang harus terenggut, tapi feel mereka lebih kuat memotivasi seberapa besar pun konsekuensi yang harus mereka bayar. hanya mereka visioner, mereka yakin feel itu akan menjadi riil setelah menyelesaikan misi kerja dan karya yang penuh ujian dan cobaan tersebut. 

kenikmatan itu direngkuh di akhir. selalu begitu. dan begitu sebaliknya, penyesalan. kenikmatan kekal, jannah, ada di akhirat. bukan dunia. kalaupun ada kenikmatan di dunia, itu hanya kabar gembira yang dipercepat. sebatas kabar, bagian kecil kenikmatan kekal, kecil sekali. tapi akumulasi bagian-bagian kecil itulah yang turut membentuk feel, kabar-kabar gembira itu begitu membuat semangatnya terbakar. ia tahu puncak lelah kerjanya akan ia dapatkan. begitu juga dengan karya nya yang akan segera ia investasikan untuk manusia setelahnya. sehingga akan terbayar lah semuanya. karena, tiada totalitas dalam ibadah yang tak terbayar jannah. juga dalam kerja dan karya yang tak terbayar surga.

“Sudah lewat waktu untuk tidur saudaraku. Tiada istirahat bagi seorang mukmin kecuali di surga kelak.”
READ MORE - menggadai waktu, berlelah merenggut surga...

12 May 2013

What's on your mind?



HAHA
READ MORE - What's on your mind?

07 May 2013

No Progress


Begitu beratnya kepalaku, aku merasakannya, pusing, linglung, berat, dan melelahkan. Bukan karena memikirkan ataupun mengurus umat, bukan. Semua hanya sok. Selama ini hanya sok memikir, juga sok mengurus. Ya, tidak ada hasil dari memikirkan, tidak ada fakta dari mengurusi. Semua itu sok. Tidak lebih. Bahasa kaskusnya, no pict=hoax, no implementation=hoax, no fact=hoax.  Tapi bukan juga karena cinta muda membara, bukan. Meskipun semakin sekarang, semakin bebas berkeliaran perkataan-perkataan tidak penting keluar dari mulut ini menggoda wanita. Jijik, sungguh memalukan. Kamu hanya memindahkan kata-kata orang yang berpacaran ke semua perempuan yang kamu ajak bicara, tapi memang bukan pacarmu. Jadi kamu bisa beralasan kamu memang tidak pacaran, meskipun esensinya sama. Menjijikkan, mana kekuatan umar & noname di hatimu!

Ada yang salah dengan ini semua. Entah, akupun belum tahu pasti apa penyebabnya. Masih mencoba memetakan problem sekaligus mencari solusi. Yang pasti, kegoblogan-mu ini ngga bisa ditolerir. Bagaimana kamu bisa berbicara tentang umatmu, sedangkan dirimu masih berkutat dengan permasahalan-permasalahan sepele yang kamu sepelekan setiap hari? Bagaimana dengan umat yang diserahi Allah untuk kau urus, sedangkan yang diserahi amanah saja masih alfa, padahal bisa dijauhi. Tulikah, butakah, tertutupkah mata hati mu, hah? Atau memang asumsi bahwa kamu susah mendapat hidayah berupa kepekaan itu benar karena akumulasi kemaksiatanmu yang menggunung tinggi? Cukup tau begitu goblok kamu menghidupi keseharianmu. Padahal kamu paham semua mengharapkanmu. Asa mereka mahal, semahal ikhlas menghibahkan diri mereka untuk jama’ah. Tapi perlahan kamu melempar asa-asa mereka, dengan mudah. Sembarang tak terarah.

Nikmat dunia akankah bagimu melebihi nikmat akhirat? Kau gadaikankah kesabaranmu yang dengannya kamu bisa merengkuh surga? Begitu nikmatnya.

Perteguh prinsipmu yang kini melonggar. Perlama sujud-sujud malammu yang telah banyak terbuai tidurmu. Perbanyak lantunan-lantunan dzikirmu yang telah banyak tersita kata gombalmu kepada wanita. Perkuat ikatan Rabb-Mu, Ia telah menguatkan, hanya kamu selalu menghindar. Aku merindukan masa itu, rindu begitu dalam, tak tergambar, tak bertepi, tak terbatas, tapi terjangkau, tidak bias, dan pasti. Tiada hidup tanpa jihad, dan tiada jihad tanpa berkorban. Berkorban menghilangkan sejenak, sejenak saja, bayangan ingin mendapatkan pujian-pujian di dunia. Karena sebentar lagi kamu juga mati.

Coba pelan-pelan perbaiki. Itu shalat nafilah, shaf pertama dengan takbiratul ihram pertama imam, do’a khususnya untuk kedua orang tuamu, 2 lembar qur’an, sudahkah menyertai 5 waktumu sehari? Shalat dhuha, shalat tahajjud, sedekah. Masih ingatkah dirimu dengan kekuatan mata hati para sahabat nabi SAW, yang didapat karena ibadah-ibadah penguat ruhiyah mereka?

“karena tidaklah kamu mengamalkan ‘mujaahidun li hawahu’ –yang kuat terhadap hawa nafsunya, kecuali menyertainya halaawatul ibadah, manisnya beribadah”. Yang juga kamu ingat bahwa terlahir halaawatul iimaan dari halaawah ‘ibadah dengan totalitasnya, tidak setengah-setengah dengan hawa nafsu. Jadi jika ibadahmu selama ini masih belum berdampak apa-apa, kamu susah menikmati, hati-hati, jangan-jangan selama ini kamu masih menjadi budak hawa nafsumu. Dan tentunya akan berdampak dengan imanmu. Kemudian membintik-hitamkan hatimu. Semuanya tertutup, hidayah susah masuk, juga jasadmu menjadi rusak. Secara perlahan. Perlahan tapi pasti, hanya menunggu waktu yang tepat. Semakin goblok, serba menggantung, terhimpit, ngga bahagia dan tentu penyakitan!

Astaghfirullah, padahal aku merasa selama ini nikmat-nikmat mengalir lancar. Begitu dimudahkannya urusan-urusanku. Hidupku semakin luwes. Tapi aku sadar bahwa banyak agenda-agenda yang aku lalaikan, susahnya aku dalam menentukan prioritas. Dan tidak aku lupakan sama sekali quote “tanda-tanda berkahnya amal shalih adalah lahirnya amal shalih berikutnya, yang berkesinambungan”. Aku takut ya Allah, takut. Istidraj, istidraj, istidraj itu, aku memohon ampunan kepada-Mu Allah, aku takut istidraj.

Engkau tempat memohon pertolongan. Kepada-Mu lah segala ketergantungan. Engkau lah pemberi luasnya  maghfirah dan hidayah pada jalan yang lurus.
READ MORE - No Progress