Bukankah sebuah paradoks yang aneh, kita meninggikan suara menuntut negara-negara barat dan melakukan protes keras terhadap segala tindak tanduknya, sementara di sisi lain kita meng-agungkan tradisi-tradisinya dan terbiasa dengan adat-adatnya, dan bahkan kita lebih memilih produk-produknya untuk kemudian kita konsumsi. Padahal kita mengetahui bahwasanya tidak lain itu akan digunakan untuk melukai kaum muslim yang lain. Sungguh ironi menurut ane.
”Tegakkanlah daulah Islam di dalam hati-hati kalian, niscaya dia akan tegak di negeri kalian”. Begitulah perkataan mursyid ‘am ke-2 hassan al-hudaibi, seorang jaksa pionir kewibawaan dan kejujuran. Sebenarnya, hal yang mendasari kehidupan seorang ikhwanul muslimin adalah perubahan menuju individual muslim yang lebih baik dan lebih dewasa. Dan dengan begitu akan tercipta suasana lingkungan yang islami, keluarga islami, komunitas islami, negeri islami, bahkan menuju khilafah islam yang pada akhirnya akan terbentuk “ustadziyatul alam”.
Ane ingin menjelaskan bahwa imam asy-syahid hasan al-banna dalam membentuk kader muslim menggunakan manhaj “tarbiyah” dan “progresif” dalam risalah dakwahnya. Dakwah yang gue maksud disini adalah dakwah untuk melakukan perubahan yang diinginkan, yaitu dakwah islam yang bersifat meyeluruh dan komprehensif dan bukan parsial. Menafikan sebagian dengan sebagiannya.
Makanya, apabila dasar pemikiran Hasan Al-Banna ini kita implementasikan kepada kehidupan kita sehari-hari, Insya Allah akan menjadikan kita sebagai muslim yang haqiqi, Yang kalo meninggal gak jauh-jauh dari surga. MAKANYA JANGAN ALPA PAS HALAQAH, kawan. That’s so important (ga’ tau bener pa kagak).
Wallahu a’lamu bish showab.(sumber dari berbagai inspirasi, sms dari om hasan al-banna, telpon dari pakde hasan al-hudaibi, surat dari paklik umar at-tilmisan, email dari uwa’ Muhammad hamid abu an-nasr, taujih dari pak Mustafa masyhur pas ketemu di mimpi, wejangan ustadz ma’mun al-hudaibi dan Muhammad mahdi akif )
07 September 2009
pengen dikeluarin aja
yang mosting noname pas : 17:48:00
Labels: bukan upil biasa, inspiring of ngga jebo, tjoeman nyored
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komen:
Post a Comment