bismillah,
pujian atas tuhanku, shalawat dan salam untuk rasulku serta ummatnya yang ittiba' terhadap sunnah-sunnahnya
suatu amalan kebaikan yang senantiasa istiqamah karena tuhanNya, berlomba-lomba saling berikatan dan mengisi satu dengan yang lainnya seperti deburan ombak yang sahut menyahut untuk mendapatkan tempat pertama kali di daratan, akan mendapat porsi balasan yang sesuai, Allah maha professional dan proporsional. sesungguhnya, tidaklah diterima amalan seseorang kecuali dengan 2 hal:
mengikhlas hanya untuk tuhannya dan ittiba' dengan sunnah-sunnah kekasihNya, tanpa ada unsur keriya'an dan segala perbuatan-perbuatan yang memberikan kecacatan padanya.
ada suatu hal yang benar-benar membuatku takut saat ini, yang pertama adalah aku telah siap menerima untuk memperjuangkan dakwah ini, tetapi dakwah ini membuatku menjadi seorang yang besar dan aku terhina oleh fitnah kebesaran itu. dan yang kedua, aku telah siap menerima untuk memperjuangkan dakwah ini,akan tetapi karena takut menjadi orang besar, aku tidak memberikan kontribusi kebaikan yang besar.
inilah keadaanku saat ini, senantiasa di dalam pergulatan takut riya' dihadapan Allah dan takut terkena fitnah dunia. tetapi, aku mempunyai suatu pengertian masa depan dakwah ini yang indah untuk kemudian aku kembangkan dalam diriku. dan semoga saya bisa menerapkan dalam kehidupan ini.
perjuangan besar dan optimisme harus senantiasa terpatri di dalam dada kita untuk sebuah kemenangan tegaknya daulah islam ini. perlunya kerja keras yang mendalam, sungguh-sungguh dan besar pada proses penegakannya. maka, integritas kedua menurutku merupakan suatu jalan terbaik untuk solusi kebaikan. ambillah kerja-kerja yang keras dan besar, dan begitu juga konsekuensinya seperti, jadi orang besar jika Allah menghendaki. dengan menjadi orang besar itulah semakin mudah dakwah kita kepada masyarakat, ke-tsiqah-an mereka besar kepada kita, dan semakin besar pula kemampuan kita untuk membenahi kemungkaran-kemungkaran yang mereka perbuat. sehingga kita mampu untuk mengaplikasikan hadist Rasulullah dalam hadits al-arba'in imam nawawi (apabila kalian melihat suatu kemungkaran, maka perbaikilah dengan tanganmu,....).
namun demikian, senatiasalah takut menjadi orang besar dengan berbagai macam penyakitnya. seperti riya' dan ujub. memang benar orang besar bukan berarti pemimpin, tetapi pertanggung jawaban kita ketika di akhirat sebagai orang besar-lah yang membuat kita layak untuk dikategorikan sebagai pemimpin. karena biasanya, semua yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang besar dilaksanakan juga oleh para pendukungnya, atau mad'unya, jama'ahnya. dengan kita menjadi orang besar, mudah bagi kita untuk menjadi pemimpin. bahkan di beberapa negara, kans orang besar melebihi para pemimpinnya. mereka lebih dihormati dan disegani.
tetapi, rasulullah SAW. melarang kita untuk meminta kepemimpinan, menjauhkan diri untuk dijadikan pemimpin. Beliau juga memberikan lampu merah bagi orang-orang besar dengan hadist Beliau "barang siapa yang senang disambut dengan berdiri oleh hamba-hamba Allah, maka disediakan tempat baginya di neraka" (HR.ahmad -10683- shahih atas syarat al-bukhari-muslim). maka mengapa seorang abi dzar radiyallahu anhu -sahabat didikan Beliau langsung, yang ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah ketika meminta dijadikan oleh seorang pemimpin??padahal adi dzar sebenarnya mampu untuk menjadi pemimpin??
itulah mungkin sekelumit perspektif diriku tentang kepemimpinan itu. berhati-hatilah terhadapnya. mungkin saja Allah memberikan amanah itu hanya untuk membuka kekurangan kita, untuk kemudian kita jadikan pelajaran kepemimpinan. kalaulah di percaya, janganlah pergi dan mengabaikannya, karena sesungguhnya ia merupakan fasilitas baik di dalam membenahi seseorang. sekali-kali Allah tidak membebankan seseorang kecuali dia mampu untuk melakukannya.
wallahu a'lamu bish-shawab.
14 July 2010
antara kebaikan, kebesaran, dan kepemimpinan
yang mosting noname pas : 21:13:00