14 July 2010

antara kebaikan, kebesaran, dan kepemimpinan

bismillah,
pujian atas tuhanku, shalawat dan salam untuk rasulku serta ummatnya yang ittiba' terhadap sunnah-sunnahnya

suatu amalan kebaikan yang senantiasa istiqamah karena tuhanNya, berlomba-lomba saling berikatan dan mengisi satu dengan yang lainnya seperti deburan ombak yang sahut menyahut untuk mendapatkan tempat pertama kali di daratan, akan mendapat porsi balasan yang sesuai, Allah maha professional dan proporsional. sesungguhnya, tidaklah diterima amalan seseorang kecuali dengan 2 hal:
mengikhlas hanya untuk tuhannya dan ittiba' dengan sunnah-sunnah kekasihNya, tanpa ada unsur keriya'an dan segala perbuatan-perbuatan yang memberikan kecacatan padanya.

ada suatu hal yang benar-benar membuatku takut saat ini, yang pertama adalah aku telah siap menerima untuk memperjuangkan dakwah ini, tetapi dakwah ini membuatku menjadi seorang yang besar dan aku terhina oleh fitnah kebesaran itu. dan yang kedua, aku telah siap menerima untuk memperjuangkan dakwah ini,akan tetapi karena takut menjadi orang besar, aku tidak memberikan kontribusi kebaikan yang besar.

inilah keadaanku saat ini, senantiasa di dalam pergulatan takut riya' dihadapan Allah dan takut terkena fitnah dunia. tetapi, aku mempunyai suatu pengertian masa depan dakwah ini yang indah untuk kemudian aku kembangkan dalam diriku. dan semoga saya bisa menerapkan dalam kehidupan ini.

perjuangan besar dan optimisme harus senantiasa terpatri di dalam dada kita untuk sebuah kemenangan tegaknya daulah islam ini. perlunya kerja keras yang mendalam, sungguh-sungguh dan besar pada proses penegakannya. maka, integritas kedua menurutku merupakan suatu jalan terbaik untuk solusi kebaikan. ambillah kerja-kerja yang keras dan besar, dan begitu juga konsekuensinya seperti, jadi orang besar jika Allah menghendaki. dengan menjadi orang besar itulah semakin mudah dakwah kita kepada masyarakat, ke-tsiqah-an mereka besar kepada kita, dan semakin besar pula kemampuan kita untuk membenahi kemungkaran-kemungkaran yang mereka perbuat. sehingga kita mampu untuk mengaplikasikan hadist Rasulullah dalam hadits al-arba'in imam nawawi (apabila kalian melihat suatu kemungkaran, maka perbaikilah dengan tanganmu,....).
namun demikian, senatiasalah takut menjadi orang besar dengan berbagai macam penyakitnya. seperti riya' dan ujub. memang benar orang besar bukan berarti pemimpin, tetapi pertanggung jawaban kita ketika di akhirat sebagai orang besar-lah yang membuat kita layak untuk dikategorikan sebagai pemimpin. karena biasanya, semua yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang besar dilaksanakan juga oleh para pendukungnya, atau mad'unya, jama'ahnya. dengan kita menjadi orang besar, mudah bagi kita untuk menjadi pemimpin. bahkan di beberapa negara, kans orang besar melebihi para pemimpinnya. mereka lebih dihormati dan disegani.
tetapi, rasulullah SAW. melarang kita untuk meminta kepemimpinan, menjauhkan diri untuk dijadikan pemimpin. Beliau juga memberikan lampu merah bagi orang-orang besar dengan hadist Beliau "barang siapa yang senang disambut dengan berdiri oleh hamba-hamba Allah, maka disediakan tempat baginya di neraka" (HR.ahmad -10683- shahih atas syarat al-bukhari-muslim). maka mengapa seorang abi dzar radiyallahu anhu -sahabat didikan Beliau langsung, yang ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah ketika meminta dijadikan oleh seorang pemimpin??padahal adi dzar sebenarnya mampu untuk menjadi pemimpin??

itulah mungkin sekelumit perspektif diriku tentang kepemimpinan itu. berhati-hatilah terhadapnya. mungkin saja Allah memberikan amanah itu hanya untuk membuka kekurangan kita, untuk kemudian kita jadikan pelajaran kepemimpinan. kalaulah di percaya, janganlah pergi dan mengabaikannya, karena sesungguhnya ia merupakan fasilitas baik di dalam membenahi seseorang. sekali-kali Allah tidak membebankan seseorang kecuali dia mampu untuk melakukannya.

wallahu a'lamu bish-shawab.
READ MORE - antara kebaikan, kebesaran, dan kepemimpinan

16 April 2010

dari hati untuk palestina

Alhamdulillah, puji syukur untuk Tuhanku, shalawat kepada Nabiku, semoga kita termasuk golongon orang-orang yang senantiasa menghidupkan dan menjalankan dakwah dijalan-Nya.

Yaa ikhwanii fillah fi hadza ad-dunya
dengarkan seruan ini: “Bukanlah dengan konsensus “Annpolis”, bukanlah dengan konsensus “PBB”, ataupun hak veto, bukanlah dengan perundingan marathon, bukanlah dengan janji-janji palsu dan peringatan-peringatan yang permanen, bukanlah dengan semua itu dan yang serupa dengannya hak-hak umat dapat kembali dan penjajahan dapat berhenti…
namun dengan perlawanan, dengan jihad yang berkesinambungan, dengan berpegang teguh pada tsawabit, dengan persatuan umat, dengan menghidupkan ruh (spirit) perlawanan dan perasaan yang bergelora,dengan seluruh harta kita, cinta syahadah di jalan Allah dan tidak takut mati.

sesungguhnya AL-QUDS adalah simbol bagi kaum muslim dunia. menjadi tolak ukur kejayaan umat islam saat ini, merekalah seharusnya yang menjadi perhatian utama bagi kita. prioritas utama ari kehidupan kita sebagai ikhwan. mereka sedang menunggu ilmu, harta, ruh, serta jasad kita. mereka adalah saudara-saudara kita.


DAN SEKARANG PUN YANG MASIH AKU TAKUTKAN ADALAH SIKAP ACUH TAK ACUH DARI SEORANG IKHWAN KEPADA PALESTINE, KHUSUSNYA AL-QUDS.
wahai pemimpin bangsa-bangsa arab, menyakitkan bagiku dengan terdiamnya bangsa-bangsa mu, apakah engkau takut dengan kecaman-kecaman dan tekanan-tekanan kaum kera??
ya hosni mubarak, hari ini aku meragukan aqidahmu sebagai saudara se-islam. lebih menyayat hatiku dengan sikap ironi mu terhadap saudara-saudaraku, serangan-serangan brutal zionis tak lebih menyakitkan daripada sikapmu-sikapmu yang keras, dan aneh. sesungguhnya engkau akan terus menjadi bangsa rendah tak bermartabat. inilah kecaman dariku, kami.
READ MORE - dari hati untuk palestina

07 January 2010

WASIAT ASY SYAHID MUHAMMAD FATHI FARHAT

   
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada imam para mujahidin dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Allah SWT berfirman : “Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur (syahid) dan diantara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (Al Ahzab : 23).
Saudara-saudara yang aku cintai, sesungguhnya langkah pertama dalam jihad adalah komitmen dengan ajaran Al Qur’an dan manhaj yang telah ditetapkan oleh Al Musthafa Muhammad Rasulullah SAW. Langkah kedua dalam jihad jangan tidur malam kecuali anda melihat kondisi negeri dan rakyat. Setelah semua itu, mulai persiapan untuk hari pertemuan dengan nyalakan senjata, meriam dan rudal untuk menggapai syahadah atau kemenangan yang diturunkan oleh Rabb seluruh hamba.
Apakah antum memiliki cita-cita dan maju untuk memulai jalan, mempersiapkan diri untuk turut serta menyusul para ikhwan yang telah mencampakkan dunia dan menjualnya dengan sesuatu yang belum pernah mereka gapai harganya, menuju ridlo Allah, menuju Firdaus yang tinggi, menuju rengkuhan Nabi Muhammad SAW.
Saudara-saudaraku yang aku cintai, orang-orang telah mengklaim bahwa mereka takut api neraka tapi melakukan amal yang menjerumuskan ke jurangnya. Mereka mengklaim bahwa mereka mencintai surga tapi justru menjauhinya.
Sesungguhnya barangsiapa yang menjauh dari kitab Allah, maka dia akan merugi banyak dan banyak. Jangan melihat ke arah hal-hal yang melenakan lagi rendah, yang tidak memiliki harga disisi Allah Azza wa Jalla.
Antum semua dikepung fitnah dan cinta syahwat. Dan aku, syahwatku adalah surga, maka aku memilihnya. Telah kulakukan akad transaksi jual beli demi perdagangan yang menguntungkan , yaitu surga.
Saya mohon antum memaklumi atas keterlambatanku dalam melakukan pembalasan dari para pengkhianat. Kuingatkan antum, janganlah jauh dari kitab Allah Azza wa Jalla; berapa banyak orang melupakan Allah, maka Allah pun melupakan mereka. Dan aku insya Allah, disisi Rabbku disurganya bersama : Izzuddin Al Qassam, Abdullah Azzam, Imad Aqil, Yahya Ayyasy, Iwadh Sulami, Mahmud Abu Hanud, Hasan Abbas, Usamah Halis dan Bilal El Ghaul.
Saudara-saudaraku yang aku cintai, sesungguhnya hidup disisi Rabbul Izzah (Allah SWT) pastilah lebih utama dari segala hidup yang baik. Demi Allah, hidup selain disisi Allah pastilah sejelek-jelek kehidupan yang diagung-agungkan para thaghut (kaum ingkar) yang sombong dan congkak. Demi Allah ! itulah syahadah, tidak akan pernah berakhir; tidak akan berakhir dan tidak akan berjumpa kekasih dengan yang dikasihi kecuali pembelot atau syahid.
Wahai putra-putra front Islam….Antum putra-putra Islam yang akan tetap bersuara; meneriakkan semangat keberanian dalam menghadapi segala idiologi (mafahim) agar umat ini bangun dari tidurnya yang lelap. Antum yang akan menjadi peluru-peluru dan meriam yang akan membunuh, merobek, mencabik-cabik imperialis Israel dan begundal-begundalnya.
Saudara-saudaraku yang aku cintai, hidup dibawah naungan dakwah telah mengajariku bahwa hidup itu sementara yang akan disusul oleh kematian, diserang kefanaan. Berapa banyak orang yang hidup, mati tanpa memperoleh yang dia citakan, tidak bisa menggapai apa yang diharapkan, sekalipun telah mencurahkan seluruh jiwa dan raganya yang berharga dan yang rendah.
Dunia itu penuh tipu daya, upaya yang nampak bukanlah suatu jaminan; jika nampak manis maka itu adalah racun pahit yang mematikan. Jika nampak menggiurkan justru itu adalah sesuatu yang menakutkan, jika nampak mulia dan berharga maka itulah yang merugikan. Berapa banyak raja yang disanjung dengan simbol-simbol, untuk apa simbol-simbol…?. adapun akhirat adalah kehidupan orang mukmin yang lezat penuh kenikamatan yang abadi, tidak ada yang sia-sia.
Di surga tersedia apa saja yang diinginkan jiwa, menyenangkan mata, sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga serta belum pernah terlintas dalam hati manusia. Janganlah kau beli tujuan jangka pendek dengan jangka panjang, jangan kau beli kehidupan fana ini dengan keabadian.
Ikhwan dan akhwat yang aku cintai, jalan dakwah ilallah itu bukanlah pangkat dan kedudukan  yang dicari, tapi ia adalah jalan yang dipenuhi dengan makarih (hal-hal yang tidak menyenangkan), penuh dengan hentakan yang tiba-tiba, di dalamnya ada taklif (baban kewajiban) yang berat dan penderitaan yang luar biasa.
Saudara-saudaraku ikhwan dan akhwat yang aku cintai, shalat shubuh dalam jama’ah adalah indikator para kesatria, tempat berhimpunnya orang-orang mukhlis, tanda-tanda para mujahid, tak ada amalan sejenis yang menyamai kebaikan yang ada di dalamnya, cukuplah pelakunya berada dalam jaminan Allah Azza wa Jalla.
Ikhwan dan akhwat yang aku cintai, adapun qiyamul lail adalah madrasahnya generasi pilihan, inkubatornya para rijal, tanda-tanda para mujahid, isyarat orang-orang yang menang dan derap langkahnya orang-orang shalih.
Saya juga meminta kepada para penguasa, supaya jangan memburu para mujahid yang menggelisahkan ketenangan istirahat musuh, janganlah (mendekat) melindungi pemukiman-pemukiman Yahudi sampai para mujahid menebar butir-butir kepahitan pada mereka.

Wahai orang-orang yang dipilih Allah untuk merealisasikan kehendak-Nya lewat kalian, agar Allah mengembalikan kekuatan agama-Nya ke tangan-tangan kalian, lewat kalian Allah mengangkat panji-panji agama-Nya. Maka teguhkanlah perjuangan diatas jalan-Nya.
Saudara-saudaraku ikhwan dan akhwat yang aku cintai, aku wasiatkan kepada kalian bertaqwa dan takut pada Allah, kokohkan persatuan barisan (shaf) menghadapi musuh. Kepada semuanya aku meminta maaf atas semua kesalahanku dan semoga Allah mencurahkan rahmat pada kita, melimpahkan rizki syahdah di jalan-Nya.
Kepada ayah dan ibunda, semoga Allah SWT mengilhamkan kepadanya kesabaran dan keteguhan. Tiada sesuatu yang aku miliki kecuali ucapan selamat berpisah dengan kesyahidanku, insya Allah.
 Akhirnya, aku berlindung kepada Allah dari ketergelinciran lidah dan lisan serta badai bencana dunia. Semoga Allah menerima ibadah kita ini, menjadikannya ikhlas demi mengharap ridlo Yang Maha Mulia.  Jum’at, 1 Maret 2002. Saudaramu Asy Syahid Al Hay (seorang syahid yang tetap hidup) Farhat Abdul Qassam
READ MORE - WASIAT ASY SYAHID MUHAMMAD FATHI FARHAT