09 May 2009

gue nangis bacanya....

gue kemarin sejenak liat-liat. gugling sebentar. iseng2 nyari kata husnul khotimah. gue dapet satu yang buat gue rada menarik. gue baca bentar. gue nangis bacanya.tentang husnul khotimah jaman baheula..
gue inget, terakhir kalinya gue rasain pas gue satu MTS. ana antum bukan suatu yang tabu chuyy. nah sekarang??anjing, babi, kelas satu dah pernah (relatif banyak). buat para perubah zaman. bantu gue nyebarin ini. klo lw mw, liat situsnya di temen2 gue. klik yang namanya situs alumni.
gini nih curhatnya kak alumni ntu...

Menyegarkan Kembali Husnul Khotimah

Saya masih ingat awal tahun 1994, masa menginjakkan kaki pertama di pesantren Husnul khotimah. Teduh dan sepi. Hanya terdapat
beberapa bangunan asrama, kelas dan sebuah masjid megah bernama Al-Husna. Meski memang hingga sekarang pun tidak ada plang sama sekali yang menyebut jika masjid itu bernama Al-Husna. Belum ada bangunan bertingkat tiga di seberang masjid tersebut, hanya belukar dan rumput liar.

Asrama-asrama begitu putih bersih dan rapi, seperti bangunan baru. Ah, saya langsung jatuh cinta saat itu. That is what I want. Seolah kita dipersilahkan masuk dengan hangat. Pantas saja saat itu koran nasional Republika menjuluki pesantren yang terletak di kaki gunung Ciremai ini sebagai pesantren terbersih.

Tidak ada orientasi penerimaan santri baru, hanya kehangatan kakak kelas dan keramahan para ustadz. Tidak ada walisantri mengantar dengan kendaraan mewah, hanya mobil angkutan umum sewaan. Santri-santrinya pun berasal dari golongan menegah ke bawah alis kere, hanya beberapa saja yang berpunya. Lihat saja baju-bajunya yang sederhana dan bersahaja. Jika shalat berjamaah dilaksanakan tidak ada shaf tumpah hingga ke luar, hanya tujuh shaf berbaris rapi. Tidak lebih. Kecuali saat-saat ada pengajian akbar, shaf belakang di isi oleh santriwati. Jika malam menjelang, pukul sembilan sangat sunyi senyap. Seolah tidak ada kehidupan. Saat itu pesantren terasa lapang dan luas.

Tidak ada ranjang tingkat, hanya hamparan kasur jika malam tiba. Untuk lemari silahkan beli sendiri, orang yang anggarannya minim seperti saya, hanya membeli lemari plastik seharga Rp.15.000,-. Bagi yang berduit, memakai lemari kayu. Dari tigapuluh orang satu kamar, hanya satu dua yang menggunakan lemari kayu. Tidak ada kendaraan oprasional pondok, hanya ada beberapa kendaraan roda dua milik ustadz, itupun terdiri dua jenis yaitu, Vespa bagus dan Vespa butut. Tak heran bagi para santri putra, Vespa adalah kendaraan idaman masa depan, mereka mengidolakan motor yang rawan ngadat itu.

Kehidupan Spiritual

Dengan segala kekurangan itu, ada intan permata yang sangat berharga. Yang bisa jadi akhir-akhir ini jarang kita ditemui lagi di pesantren tercinta ini. Kehidupan spiritual. Penghuni pesantren saat itu ibarat para rahib di malam hari. Jika malam tiba, musrif atau pembina kamar yang merupakan kakak kelas, membangunkan anggotannya. Untuk mengambil air wudhu di malam yang dinginnya menembus tulang sumsum. Imamnya pun adalah musrif sendiri. Shalatnya panjang. Lokasinya tak hanya di masjid, depan asrama pun boleh. Dilapangan bulutangkis pun pernah. Sepertiga malam pun begitu hidup. Oase spiritual yang tak ada habisnya.


Jangan harap bisa makan sambil berdiri, kakak kelas tercinta pun akan segera mengingatkan. Meski mereka bukan pengurus OSHK atau musyrif. Jika adzan berkumandang, kamar pun mendadak sepi, tak hanya menunggu inpeksi pengurus, kita sudah saling mengingatkan. Jika terlambat shalat berjamaah kita akan malu sendiri, karena seluruh jamaah masjid tahu. Interaksi terasa sangat dekat, saling mengingatkan. Amal ma’ruf nahi mungkar bukan sebatas slogan, tapi nyawa yang terasa nadinya. Itulah saat ruhiyyah meningkat.

Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan fenomena alam ruh dengan mengatakan, “kemana perginya ilmu pengetahuan, daya pikir, tingkah laku tubuh, kehebatannya dan pemikiran-pemikirannya? Semuanya bisa hilang bersama hilangnya ruh dan yang tinggal hanya tubuh yang tak ada beda dengan tanah. Bukankah manusia berbicara, melihat, mencintai, menyayangi, melawan, dan lainnya karena ada sesuatu yang ada di balik tubuh kelihatan ini?..”

Muhammad Nursani dalam bukunya Mencari Mutiara di Dasar Hati menulis, banyak orang belum mengerti kekuatan ruhani dalam menjalani hidup, badan manusia dan lahir itu seperti sebatang kayu. Sementara kehidupan yang meliputinya tidak lain karena adanya ruh. Ada orang fisik dan tubuhnya besar tapi ringan di hati dan tutur katanya manis. Sebaliknya ada yang tubuh kecil tapi dia kasar dan memberi beban di hati. Bukankah itu semua terjadi karena kelembutan dan kekasaran jiwa atau ruhaninya?
Blue Tark, seorang sejarawan Yunani mengatakan, “Aku telah menemukan dalam sejarah, sebuah kota tanpa benteng, sebuah kota tanpa istana dan sebuah kota tanpa sekolahan, tapi aku belum pernah menemukan sebuah kota tanpa tempat ibadah...” Artinya, peradaban besar manapun selalu membutuhkan kehidupan spiritual. Masyarakat manapun memerlukan obor penerang jiwa-jiwa mereka.

Masjid dan ibadah ritual menjadi sebuah parameter tingginya ruhiyyah atau spiritual suatu masayarakat. Maka tidak terhindarkan lagi, meningkatkan gairah spiritual itu adalah sebuah keniscayaan. Karena apa gunanya tampilan menawan jika jiwanya ringkih. Apa gunanya bangunan megah tapi penghuninya lemah. Jangan sampai Pesantren Husnul Khotimah, tampilannya memukau sedang isinya rapuh. Perkuat ruhani melebihi kekuatan lahir. Perhatikan dia lebih dari perhatian kita terhadap kebutuhan lahir. Jangan biarkan ia memudar bak warna kehilangan keindahannya. Hiasilah ruhani lebih baik dari hiasan lahir kita. Karena kekuatan ruhiyyah itulah yang hakiki dan nantinya melahirkan kehebatan lahir.

Maka tidaklah heran kenapa para Ulama besar Islam menyepakati bahwa peradaban keemasan Islam bukanlah pada dinasti Umayyah atau Abbasiyyah, bukan pada masa kemewahan dan kemegahan masyarakat tersebut. Tapi justru terjadi pada masa Rasulullah dan para shahabatnya hidup. Saat kehidupan ruhiyyah melandasi setiap langkah kehidupan. Saat spritual menjadi nafasnya. “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan beriman kepada Allah..” (QS: Al ‘Imran: 110).
selesai...

demi Allah, gue pen banget. gue kangen masa2 gue kelas satu. kakak kelas yang menyayangi. ade kelas yang menghormati. suara2 yang kgk gue kenal blon seberapa menyebar. husnul ada di bawah sekarang, buat akhlakhnya. klo buat terkenalnya munkin lagi diatas2 nya.
tapi gue g bisa diboongi. sekarang, ade gue lebih gue pilihin pondok di jawa tengah bernama ibnu abbas. ustad mu'in mudirnya. seorang yang beristrikan asma nadia. masih se fikroh sama husnul.
tapi gue masih cinta husnul katna Allah.

2 komen:

Yusna Fadliyyah Apriyanti said...

setuju-setuju,,,

ane juga sedih klo lihat husnul sekarang,,,

nggak ikhwan,, nggak akhwat...

semuanya liar,,,

mgkn emang semuanya pernah hilaf,,

tapi kok nggak berujung yah,,,

suruh temen-temen antum jga bca tuh,,,

Yusna Fadliyyah Apriyanti said...

ia,,

ane juga sedih klo lihat husnul sekarang...

nggak ikhwan,,, nggak akhwat,,

semuanya liar,,,

emang semua orang pasti pernah hilaf,,

tapi kok, nggak berujung yah...

cba,,, semuanya bsa sepikiran ma antum,,,

pasti husnul bsa kyak dlu lagi,,,